Blurb
Enam mahasiswa datang ke Tenggarong membawa surat penelitian, kamera pinjaman, dan urusan tugas akhir yang belum selesai. Mereka ingin belajar langsung dari orang-orang yang merawat budaya Kutai: dari latihan tari dan musik sampai prosesi Erau di lingkungan keraton.
Pada pagi pembukaan, sebuah tali tersangkut. Fajar berusaha melepaskannya, Bagas menahan perlengkapan yang bergeser, dan Sekar mengembalikan bagian yang terjatuh. Mereka segera meminta maaf dan melapor. Siang itu, titah Sultan dibacakan, gong dipukul, dan brong dinyalakan. Erau berlangsung meriah.
Beberapa hari kemudian, Fajar demam tinggi dan kejang.
Tanpa pendamping lokal, kelima temannya bergegas mencari pertolongan. Mereka melihat rumah sakit dengan pintu terbuka, petugas yang sigap, dan ruang tunggu penuh. Seorang petugas membawa Fajar melewati pintu perawatan.
Pagi datang. Bangunan itu telah ditinggalkan. Fajar tidak ada.
Di tengah pencarian, rekaman pembukaan memperlihatkan bagian kecelakaan yang belum mereka pahami. Cerita tentang batas benua, penghuni Mahakam, Putri Karang Melenu, dan Lembuswana kini menuntut perhatian yang berbeda.
Di luar sana, Tenggarong tetap merayakan Erau. Di antara orang-orang yang datang untuk menolong, seseorang terus menawarkan jalan menuju Fajar.
Mereka pernah mengikuti orang itu. Di rumah sakit semalam.