Jakarta masih gelap ketika Dara berangkat ke bandara. Di ponselnya, pesan Raka masuk berurutan: titik kumpul, nomor pintu, lalu permintaan agar tidak ada yang mematikan suara telepon.
Bagas membalas dengan foto segelas kopi.
Raka meneleponnya.
Dua jam setelah mereka duduk berderet di ruang tunggu, Dara sudah berada di pesawat menuju Balikpapan, mencoba tidur dengan leher yang tidak menemukan posisi nyaman. Di sebelahnya, Sekar menandai daftar barang pada ponsel. Intan memasang earphone tanpa memutar apa-apa..
Dara sempat terlelap. Ketika bangun, awak kabin sedang mengumumkan persiapan mendarat. Ia membuka penutup jendela. Di bawah awan, laut dan deretan atap terlihat semakin dekat.
Mereka tiba di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan pada pagi hari. Perjalanan udara selesai. Setelah mengambil bagasi, mereka masih harus menempuh perjalanan darat menuju Tenggarong.
Di bangku dekat pintu keluar kedatangan, surat pengantar mereka ada di bawah paha Bagas.
Dara menemukannya setelah Raka membongkar ransel untuk kedua kali, mengeluarkan pengisi daya, dua buku catatan, dan sebungkus roti yang penyok. Bagas masih duduk, menahan tabung gambar Sekar di antara lutut.
“Gas. Berdiri bentar.”
“Kenapa?”
“Parah lo, Gas. Berkas kita lo dudukin kayak gitu.”
Bagas mengangkat tubuh. Map biru itu jatuh ke bangku. Raka mengambilnya, meratakan bagian sampul yang terlipat.
“Gue tadi nitip buat dipegang.”
“Ya, tangan gue penuh. Lo juga ngasihnya ke gue semua.”
Dara meraih koper di samping kakinya. Kaosnya lengket di punggung. Troli mereka dipenuhi tas dan koper. Intan berdiri dekat pintu terminal, memanfaatkan embusan udara dingin setiap kali pintu terbuka. Fajar sedang menghitung barang sebelum semuanya dipindahkan ke mobil.
Laki-laki yang menjemput mereka menunggu sampai Raka selesai merapikan isi map. Kemeja lengan panjangnya digulung sampai siku. Sebuah kartu pegawai menggantung dari saku dada, sebagian tertutup sabuk tas.
“Yang asli saya lihat sebentar, ya. Salinannya sudah masuk kantor.”
“Ini, Kak.”
Raka menyerahkan surat itu dengan kedua tangan.
Laki-laki itu mencocokkan nama mereka dengan layar ponselnya. “Raka, Fajar, Bagas. Sekar, Intan, Dara?”
Dara mengangguk ketika namanya disebut.
“Saya Rizal. Kemarin yang menghubungi soal penjemputan dan mobil sewaan.”
“Iya, Kak. Saya Dara.”
Jabatan Rizal sudah dibacanya dalam percakapan grup: staf bidang kebudayaan yang ditugaskan mendampingi kunjungan mereka. Dara sempat membayangkan seseorang yang jauh lebih tua. Dari dekat, Rizal tampak belum lama meninggalkan usia mahasiswa.
“Perjalanannya lancar?”
“Lancar, Kak,” kata Raka.
Intan mendekat sambil membawa dua botol air. “Cuma kaki saya kayak masih dilipat.”
Rizal tersenyum. Ia mengembalikan surat itu, lalu menunjukkan arah tempat parkir.
“Minibusnya sudah siap. Kita lewat Tol Balikpapan–Samarinda, terus lanjut ke Tenggarong.”
“Berapa lama, Kak?” tanya Intan.
“Kalau sekalian berhenti istirahat, ya kira-kira empat sampai lima jam.”
Intan menatap koper, kemudian botol air yang baru dibelinya. Ia memasukkan satu botol ke tas kecil agar mudah dijangkau.
Mobil itu mempunyai dua belas tempat duduk. Ketika Dara mendengarnya, ia mengira mereka akan punya banyak ruang.
Anggapan itu bertahan sampai Bagas membuka tas lampu.
“Kaki tripodnya dilipat lagi bisakah?”
“Sudah mentok, Kak.”
“Ini isinya apa?”
“Reflektor.”
“Kalau yang panjang?”
“Penyangga mikrofon.”
Rizal memandang Fajar. Fajar memandang bagian belakang mobil yang sudah dipenuhi koper.
“Di foto barang kemarin kelihatannya lebih sedikit,” kata Rizal.
“Fotonya pakai lensa lebar, Kak,” jawab Fajar.
Bagas menahan tawa. Raka menoleh kepadanya, lalu ikut tersenyum meskipun dahinya masih berkerut.
Dara membantu memindahkan dua koper ke belakang. Mereka mengikat tas besar agar tidak bergeser, menyisakan lorong untuk turun. Sekar meminta tabung gambarnya diletakkan mendatar dan tidak ditindih. Intan menyerahkan koper kecilnya, tetapi membawa sendiri tas berisi alat perekam.
Saat semuanya hampir selesai, Fajar menarik tali tas hariannya dari bawah koper Bagas.
“Sebentar. Ini nyangkut.”
Ia membebaskan talinya, lalu memeriksa pengait sebelum menyampirkan tas itu di dada. Dara melihat leher botol air menyembul dari kantong samping.
“Lo bawa semua isi kamar?” tanya Sekar.
“Kamera, baterai, air. Barang normal.”
“Sendal?”
“Di bawah.”
Sekar menggeser kakinya supaya Fajar bisa lewat.
Rizal menutup pintu belakang. Dari tempat duduk dekat jendela, Dara melihatnya mengecek sekali lagi sebelum berjalan ke sisi pengemudi.
“Mobilnya sudah sesuai yang kemarin kita bahas, ya, Rak?” Rizal bertanya sambil mengatur posisi duduknya. “Tadi saya ambil dari rental. Bisa kalian pakai selama penelitian.”
“Iya, Kak. Untuk bensin sama tol belum termasuk, kan?”
“Belum. Sama parkir juga. Nanti struknya saya kumpulkan, biar gampang kalian hitung.”
Raka mengangguk, lalu mengeluarkan buku kecil dari tasnya.
“Oh iya, di antara kalian ada yang biasa bawa mobil begini?” Rizal menoleh sebentar ke belakang.
“Saya, Kak,” jawab Raka. “Di kampus sering bawa minibus kalau lagi produksi.”
“Nah, enak. Nanti kalau saya sedang ada urusan, kamu bisa bawa. SIM-nya dibawa, kan?”
“Bawa, Kak. Datanya juga sudah saya kirim ke rental kemarin. Sudah boleh.”
Raka membuka dompet dan memperlihatkan SIM-nya. Rizal melirik, lalu tersenyum.
“Yang ini disimpan sendiri saja. Jangan dititip ke Bagas dulu.”
Dari belakang, Bagas langsung menyahut. “Sekali itu aja, Kak.”
“Iya, saya juga baru lihat sekali.”
Fajar tertawa kecil. Bagas menggeleng sambil membetulkan posisi tas di kakinya.
Rizal menunggu Raka menyimpan kembali dompetnya.
“Nanti jadwal kalian kita cocokkan, ya. Saya usahakan ikut, tapi ada waktunya saya mesti ke kantor juga. Kalau mau pergi sendiri, bilang saja. Saya bantu tunjukkan jalannya.”
“Siap, Kak. Nanti saya kirim jadwalnya.”
“Boleh. Kalau masih berubah-ubah juga tidak apa-apa. Kita bicarakan sambil jalan.”
Dara membuka catatan di ponselnya. Nama Rizal ada di hampir setiap kegiatan yang mereka susun sebelum berangkat. Ia menandai dua jadwal untuk ditanyakan nanti, setelah mereka sampai dan bisa membahasnya bersama.
Ac mobil mulai terasa. Intan menyandarkan kepala, memejamkan mata sebentar. Di kursi depan, Raka bertanya tentang penyerahan berkas.
“Besok pagi bisa saya antar ke kantor kak?”
“Bisa. Tapi untuk masuk kegiatan tertentu, nanti tetap lewat pengurusnya. Surat kampus ini menjelaskan tujuan kalian. Izin merekamnya kita bicarakan lagi sesuai tempat.”
“Termasuk yang di keraton, Kak ya ?”
“Iya.”
Bagas membungkuk sedikit dari kursi belakang. “Kalau cuma lihat penataan tempat sebelum acara?”
“Bisa kita tanyakan. Jangan langsung masuk waktu orang sedang kerja.”
Bagas mengangguk dan kembali duduk.
Dara menatap daftar pertanyaan di layar. Beberapa disusunnya dari bacaan, sisanya dari video latihan yang ditonton berulang kali di kamar kos. Ia ingin tahu cara seorang pengajar membetulkan gerak murid: kapan tubuh disentuh untuk diarahkan, kapan cukup diberi contoh, dan bagaimana makna sebuah gerakan dijelaskan.
Di proposal, semuanya tersusun rapi. Ia belum tahu bagaimana meminta seorang penari meluangkan waktu di tengah persiapan Erau.
“Dara meneliti tari, ya?” tanya Rizal melalui kaca spion.
“Iya, Kak. Proses belajarnya.”
“Nanti saya kenalkan ke Tika. Anak Bu Salmah, yang rumahnya kalian tempati. Dia penari sanggar. Untuk pengampu lainnya, bisa lewat dia.”
“Kalau saya ingin ikut latihan?”
“Bilang dulu latihan yang mana. Nanti Tika bantu tanyakan.”
Dara menghapus kalimat ‘mengikuti seluruh latihan’ dari catatannya. Ia menggantinya dengan ‘menanyakan jadwal latihan’.
Minibus meninggalkan bandara menjelang pukul sepuluh. Dara mengirim kabar bahwa mereka sudah dijemput, kemudian menyimpan ponsel. Setelah menempuh jalan kota, mereka masuk ke Tol Balikpapan–Samarinda.
Bangunan di tepi jalan berangsur jarang. Mobil melewati lereng yang dipotong, hamparan hijau, dan kendaraan besar yang bergerak lebih lambat di jalur sebelah.
Bagas tertidur lebih dulu. Kepalanya beberapa kali terangkat ketika roda melintasi sambungan jalan, lalu jatuh lagi ke sandaran. Intan memotretnya satu kali sebelum ikut memejamkan mata.
Dara masih terjaga. Ia mendengarkan Raka dan Rizal membicarakan waktu pendampingan, sesekali mencatat sesuatu yang hampir dilupakannya.
Mereka berhenti sekali di rest area untuk ke toilet dan membeli air. Raka membagi roti yang dibawanya dari Jakarta. Dara mengambil separuh, cukup untuk menahan lapar sampai mereka tiba.
Setelah melintasi kawasan Samarinda, Rizal melanjutkan perjalanan ke arah Tenggarong Seberang. Laju mobil lebih sering tertahan. Ada kendaraan keluar dari pertokoan, orang menyeberang, dan antrean di persimpangan.
Dara mengecek jam ketika Rizal mengatakan mereka hampir sampai. Sudah lewat pukul dua.
Beberapa saat kemudian, Mahakam terlihat lebih lebar daripada yang Dara bayangkan.