Dara terbangun ketika Sekar membuka ritsleting koper. Cahaya sudah masuk melalui sela tirai, jatuh di kaki kasur Intan. Dari luar kamar terdengar sendok beradu dengan gelas, disusul suara perempuan yang sedang menelepon.
“Jam berapa?” tanya Dara.
“Setengah tujuh.”
Dara meraih ponselnya. Alarm belum berbunyi.
“Lo mandi duluan?”
“Udah. Handuk lo jatuh, tuh.”
Dara mengambil handuk dari lantai. Di kasur sebelah, Intan menarik selimut sampai ke dagu.
“Tan. Bangun.”
“Gue udah bangun.”
“Matanya dibuka.”
Intan membuka sebelah mata, lalu mengulurkan tangan ke arah botol minum. Dara menyerah dan pergi ke kamar mandi.
Ketika ia sampai di dapur, Bu Salmah sedang menjepit ponsel di antara telinga dan bahu. Sebuah buku pesanan terbuka di samping wadah telur.
“Yang untuk rapat merian ni tetap tiga puluh, kah? Iya. Amun tambah, padahi sebelum tengah hari ya.”
Dara menunggu sampai telepon ditutup.
“Pagi, Bu.”
“Pagi. Dah mandi? Ambil sarapan dulu. Nasimu di meja.”
“Ibu dah bemasak tadi?”
Di meja lain, bolu yang telah dipotong berjajar di atas nampan. Wadah berisi pisang goreng diletakkan terpisah, dekat teko teh. Dara hampir mengambil sebuah kotak kosong untuk membantu ketika Bu Salmah menunjuk piring.
“Makan dulu haja. Yang itu belum dingin, belum kawa ditutup.”
Dara duduk. Di ruang depan, Fajar sedang merangkak mencari sesuatu di bawah kursi.
“Apa lagi yang ilang?” tanyanya.
“Tutup baterai.”
“Semalam tutup lensa, sekarang tutup baterai?”
“Ketemu.” Fajar mengangkat benda hitam kecil. “Nyangkut di bawah tas.”
Ia mencuci tangan, lalu duduk di seberang Dara. Rambutnya masih basah di bagian depan, sementara bagian belakang mencuat.
Bagas muncul beberapa menit kemudian dengan kaos terbalik. Fajar menunjuk bahunya.
“Gas. Jahitannya di luar.”
Bagas melihat ke bawah.
“Pantes dari tadi nggak enak.”
“Gue kira sengaja,” kata Dara.
Bagas kembali ke kamar. Ketika keluar lagi, ia membawa piring kotornya dari semalam dan langsung menaruhnya di tempat cuci.
Pagi itu, rumah Bu Salmah terasa lebih sempit daripada saat mereka datang. Satu tas menghalangi pintu lemari, sambungan listrik melintang di bawah meja, dan sandal mereka memenuhi rak sebelah kiri. Dara harus memiringkan tubuh ketika Bu Salmah lewat membawa nampan.
“Bu, nanti habis sarapan kami bereskan barang, ya.”
“Iya. pas beneh. Ibu perlu meja ni soalnya pesanan banyak.”
Dara menarik tas terdekat ke bawah kursinya, memberi ruang bagi nampan itu.
Rizal tiba menjelang pukul delapan dengan sepeda motor. Raka menyambutnya di teras sambil membawa map biru.
“Sudah siap dari tadi, Kak.”
“Bagus. aku yang belum mbeko.”
“Masih ada nasi, Kak,” kata Dara.
“Amun tegak tu tama dulu saya ni .”
Ia melepas sepatu dan menyelipkannya di bawah rak. Seorang perempuan keluar dari kamar di bagian belakang rumah, membawa tas kain dan beberapa lembar pakaian yang dilipat di lengannya.
“Tika,” panggil Rizal. “Ni yang kemarin saya ceritakan.”
Perempuan itu meletakkan bawaannya di kursi.
“Sudah bangun semua rupanya. Malam tadi saya pulang, lawang kamar kalian dah tutup segala.”
Rizal mengenalkan mereka bergantian. Tika menyebut kembali nama Dara untuk memastikan, kemudian duduk di dekatnya.
“Yang mau mengamati latihan, ya?”
“Iya, Kak. Saya fokus ke cara belajarnya.”
“Panggil Tika haja. Umur kita ndik beda jaoh.”
“Dua puluh satu saya, Kak.”
“Dua tahun maha bedanya. Ndik jaoh dah.”
Tika tersenyum ketika Dara tetap memanggilnya Kak. Ujung jari telunjuknya dililit plester tipis. Ia membuka lipatan pakaian di pangkuan dan memeriksa bagian jahitan.
“Ini mau dipakai latihan?” tanya Sekar.
“Bukan. Ada yang minta saya betulkan. Habis latihan kendia baru saya lanjut.”
Sekar mencondongkan tubuh untuk melihat, tetapi menahan tangannya.
“Boleh lihat bagian sambungannya, Kak?”
Tika membalik kain itu. Sekar segera mengenali jahitan yang sedang dilepas dan mengajukan pertanyaan tentang benangnya. Dara mendengarkan sebentar sebelum membuka buku catatan.
Tika telah menghubungi pengajarnya. Dara dan teman-temannya boleh datang lusa untuk berkenalan serta melihat latihan yang disepakati. Hari ini Tika harus latihan sendiri, lalu menyelesaikan pekerjaan jahitan.
“Kalau nanti ada perubahan, saya kabari,” katanya. “Kalian perlu rekam dari awal sampai selesai, kah?”
“Beberapa bagian saja, Kak. Saya juga perlu ngobrol sama pengajarnya.”
“Nanti saya tanyakan waktu kosong beliau.”
Rizal baru mengambil suapan terakhir ketika terdengar salam dari teras. Seorang laki-laki membawa tas hitam panjang berhenti di depan pintu.
“Ham, tama haja,” kata Tika.
Ilham melepas sandal sambil menunduk. Rizal memperkenalkannya sebagai pemusik yang biasa mengajar dan mengerjakan tata suara.
“Intan yang meneliti musik,” tambah Rizal. “Kalau Fajar bagian suara filmnya.”
Ilham menoleh kepada mereka berdua.
“Berarti yang paling banyak dengarkan saya mengulang nanti kalian.”
“Memang harus diulang, Kak,” kata Intan. “Saya kalau baru dengar biasanya belum langsung nangkep.”
“Ndik apa-apa. Saya juga kalau murid langsung bisa segala, cepat habis bahan ajarku.”
Intan tertawa. Ia menggeser kursi, menyediakan tempat.
Tas yang dibawa Ilham ternyata berisi kabel dan sebuah alat audio yang akan diambil temannya. Sambil berbicara, ia memeriksa salah satu ujung kabel yang longgar. Fajar ikut mendekat, lalu keduanya membicarakan peralatan yang biasa mereka pakai.
Ilham bermain Tingkilan, tetapi waktunya juga diisi pekerjaan memasang dan mengurus perangkat suara. Sore nanti ia harus mengajar. Dara melihat Intan menulis waktu itu di tepi catatannya, tanpa langsung meminta pertemuan tambahan.
Intan menunjukkan perekam yang dibawanya. Ilham meminta izin memegangnya, kemudian memutar alat itu untuk melihat bagian samping.
“Saya biasa pakai yang lain. Tombol dengarnya di mana ni?”
Intan menunjukkan letaknya. Fajar mengambil earphone dari tas dan menyerahkannya.
Mereka mendengarkan rekaman uji yang dibuat Intan di kamar pagi tadi: suara hitungan, ketukan pada meja, lalu Bagas yang bertanya di mana sabunnya.
“Yang belakang itu nggak usah didengerin, Kak,” kata Intan.
“Sudah kedengaran.”
Bagas mengangkat wajah dari piring. “Suara gue masuk?”
“Masuk. Kenceng banget.”
Ilham melepaskan earphone sambil tersenyum.