Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #6

Laras dan Luka yang Dalam

Tenggarong tampak berselimut warna-warni. Langit biru cerah menaungi barisan rumah, ornamen tradisional, dan bendera kuning merah yang menjuntai di setiap sisi jalan utama. Bunyi tabuhan gendang dan gamelan mengalun dari kejauhan. Masyarakat memadati pelataran Museum Mulawarman dan dermaga Mahakam. Inilah hari pembukaan Erau.

Nadia merekam beberapa visual dengan kameranya. “Wah, ini sih kayak dokumenter National Geographic versi lokal,” ucapnya kagum. Reno dan Tasya ikut tersenyum, sementara Adit sibuk memasang mikrofon kecil ke dada Dayang Laras yang akan menjadi narasumber utama mereka untuk konten hari ini.

Gilang berdiri sedikit menjauh, mengenakan sunglasses gelap dan wajah datar. Sesekali ia tertawa sendiri membaca komentar followers-nya yang mempertanyakan, “Mana kontennya, Bro? Kapan upload?”

Namun di balik kemeriahan, ada sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa. Sesuatu yang dingin merayap di sela riuh masyarakat. Adit sempat merasakan kulit tangannya merinding tanpa sebab saat melewati panggung gamelan tua di pojok halaman.

Dayang Laras melihatnya, matanya menyorot waspada. “Sudah terasa ya?” bisiknya pelan.

Adit menatapnya, tidak menjawab.

Laras menghela napas. “Erau bukan cuma tentang pesta dan warna. Yang datang bukan cuma manusia. Yang dari 'sana' pun ikut meramaikan.”

Sambil menyusuri jalan menuju keraton untuk wawancara lanjutan, mereka sempat melihat pertunjukan rakyat. Seorang penari bertopeng Hudoq menari melingkar dengan gerakan gemulai namun anehnya... bayangannya terlihat dua kali lebih tinggi di tanah.

“Mungkin karena pencahayaan,” ucap Reno gugup.

Namun Tasya justru mencatat cepat, “Bayangan dobel – cek kamera slowmo nanti.”

Mereka duduk di pendopo kecil belakang museum untuk berbincang dengan Aji Raga Brata. Pria sepuh itu mengenakan jubah adat kuning keemasan, wajahnya teduh namun penuh karisma. Ditemani segelas teh tubruk, ia mulai bercerita tentang mitos kuno.

“Tanah Kutai ini dijaga. Selalu. Kadang lewat tangan manusia... kadang lewat yang bukan,” ucapnya.

Lihat selengkapnya