Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #7

Kembali ke Masa Lalu

 Tasya terbangun dengan napas memburu. Dahi dan punggungnya basah oleh keringat, dan dunia sekitarnya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi. Tapi matanya masih menyimpan bayangan yang tak bisa ia lepaskan.

Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah ruangan joglo tua, tubuhnya bergerak mengikuti irama gamelan yang asing namun tertanam dalam tubuhnya. Ia tak bisa berhenti menari. Di sekelilingnya, orang-orang dalam pakaian kolonial bersorak pelan, ekspresi wajah mereka kosong… dan ada seorang pria Belanda, duduk di singgasana bambu, tersenyum tipis ke arahnya. Tapi senyum itu mengandung kengerian.

“Laras…” suara Tasya gemetar, memanggil satu-satunya orang yang bisa ia percaya sepenuhnya saat ini.

Laras mendekat, tangannya menggenggam tangan Tasya yang masih bergetar. Mereka duduk di bale bambu penginapan, dengan pemandangan langsung ke arah sungai. Aroma dupa dari pelataran pura kecil milik pemilik penginapan masih menggantung di udara.

“Aku nari... bukan sebagai aku,” kata Tasya lirih. “Aku seperti… dijebak dalam tubuh perempuan lain. Ada yang ngatur gerakanku. Aku bukan penari. Tapi tubuhku tahu caranya.”

Laras terdiam sejenak, lalu menatap sungai. “Kamu nggak sendiri. Tempat ini menyimpan banyak jejak. Banyak cerita yang dipaksa dilupakan. Tapi mereka nggak pernah benar-benar pergi.”

Di tempat lain, Awang Dewa berdiri diam memandangi Sungai Mahakam. Gelombangnya tampak tak wajar. Biasanya tenang seperti cermin, kini arusnya memutar-mutar, seperti tarik-menarik antara dunia atas dan bawah.

“Aernya ndik mau diam, bah,” ucap Awang kepada Aji Raga Brata yang berdiri di sampingnya. “Dah tiga hari tegakni terus. Ada yang ganggu keseimbangan.”

Aji Raga menghela napas panjang. “Yang Jaga aer gawal misal batasnya dilanggar. Ada yang ndik beres ni. Dan sayangnya, sida menganggap etam segala yang salah.”

Di siang hari, suasana kota Tenggarong menggema dengan bunyi gendang, musik tradisional, dan suara tawa anak-anak. Festival Erau sedang di puncaknya. Penampilan Belian Sentiu tari penyembuhan dari suku Dayak, dilanjutkan prosesi Belimbur yang selalu dinanti: semua orang menyiramkan air sebagai lambang pembersihan dan keberkahan.

Kelima konten kreator, untuk sesaat, bisa menikmati festival ini. Reno merekam anak-anak bermain air. Nadia ikut menari bersama warga. Adit mencoba mendokumentasikan pertunjukan Bekayu Naga. Tasya, meski masih trauma, mulai mengagumi detail baju adat dan warna-warna khas Kutai. Tapi hanya satu yang tampak asing di tengah kehangatan itu: Gilang.

Lihat selengkapnya