Malam itu, langit di atas Tenggarong tampak aneh. Tak berbintang, tapi juga tak benar-benar gelap. Seperti ada kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti kota yang sedang bersiap menyambut hari puncak Erau. Dari kejauhan, suara riuh pasar malam dan gelak tawa anak-anak masih terdengar, tapi terasa jauh… seperti gema yang datang dari masa silam.
Di pendapa utama tempat gamelan pusaka disimpan, sunyi menguasai. Tak ada penabuh, tak ada sesaji. Tapi tiba-tiba…
“Gung…”
Satu nada gamelan terdengar pelan, nyaring namun hampa. Disusul dentingan berikutnya.
“Dung… tung… dung…”
Reno, yang saat itu sedang begadang menyusun footage dokumentasi, tersentak. Laptopnya memutar ulang potongan video dari ritual kemarin. Tapi saat ia mencoba membersihkan noise dari rekaman, ada satu suara baru yang masuk. Suara yang tidak terekam sebelumnya.
Bukan suara manusia. Tapi…
Suara seseorang atau sesuatu mengeluh lirih, dalam bahasa yang tak ia kenali. Seperti merintih kesakitan.
Reno membeku. Tubuhnya berkeringat dingin. Ia mundur perlahan, headset masih menggantung di leher, lalu menoleh ke arah jendela. Angin malam tak biasa meniup tirai, membawa aroma dupa yang tak pernah ia nyalakan.