Hujan belum reda sejak gamelan tua itu berbunyi sendiri. Angin membawa suara-suara yang tak seharusnya terdengar, membuat malam-malam mereka lebih panjang dari biasanya. Laras mulai jarang berbicara. Matanya selalu menyapu langit, seolah mencari isyarat dari yang tak terlihat. Reno menjadi pendiam, lebih sering termenung di balik layar laptopnya, mendengarkan ulang suara-suara yang tertangkap mic mengeluh, seperti bisikan luka dari masa lalu.
Tapi malam itu, sesuatu berpindah.
Nadia duduk di pendopo penginapan. Matanya kosong menatap kegelapan hutan di seberang sungai. Laras sempat menepuk bahunya, tapi Nadia tak bergeming. Nafasnya berat. Ujung jarinya menghitam, dan bau kemenyan yang semestinya tak ada mulai tercium samar.
Kemudian tubuhnya gemetar. Pelan, lalu menggila. Matanya terbalik. Dan dari tenggorokannya, suara yang bukan miliknya keluar:
“Balikan noku. Datu Kalungking ndak carang.”
Semua terdiam. Awang Dewa langsung menjura dalam posisi bersimpuh. Laras menunduk, gemetar.
“Pelanggaran sudah terjadi. Bayangan telah diberi tempat. Satu sudah jadi wadah. Kalian semua akan jadi penghubung sadar atau tidak.”