Sungai Mahakam tak pernah benar-benar diam, bahkan saat matahari belum sempat menampakkan dirinya. Tapi pagi ini, suara aliran air tak terdengar. Seolah seluruh arus tertahan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Yang tersisa hanya bau lumpur, amis, dan sepi yang menggema terlalu lama.
Awang Dewa terbangun paling awal. Ia berdiri di tepian dermaga kecil penginapan, memperhatikan sungai yang tampak membeku meski tak ada es. Tidak ada riak. Tidak ada ikan. Tidak ada burung-burung air yang biasa menari di atas permukaan.
“Air yang ndik mengalir... artinya ada yang menghalangi,” gumamnya pelan, mata menatap kosong seperti hendak membaca pesan di balik permukaan air yang keruh.
Sementara itu di dalam penginapan, suasana tak lebih tenang. Nadia duduk di pojok kamar, matanya kosong. Tubuhnya lemas sejak malam kerasukan. Yang lebih mengganggu: ia tidak ingat apapun. Reno mencoba memutar ulang rekaman yang ia ambil secara diam-diam terdengar suara berat yang bukan suara Nadia, menyebut nama-nama dari masa lalu: “Ratu Adji, Datu Kalungking,...”
Laras duduk di dekatnya, menggenggam tangan Nadia, sambil terus berbisik doa. Matanya sembab, ia belum tidur sejak ritual Belian terganggu. “Mereka marah,” katanya lirih, “tapi kenapa lewat kita?”
Reno yang biasanya tenang mulai kehilangan akal. Ia membuka laptopnya dan memutar ulang video dari malam sebelumnya. Ia mencoba menambahkan filter suara dan itulah saat suara air menjerit terdengar. Bukan air biasa, tapi seolah makhluk di dalam sungai sedang kesakitan. Jeritan itu membuat kepala Reno pening. Ia muntah. Tapi ia tak bisa berhenti menonton.
Di sisi lain, Gilang terdiam di balkon atas. Ia memegang sebuah buku catatan yang bukan miliknya. Ia mengambil buku itu dari Nadia, diam-diam. Isinya adalah gambar-gambar aneh yang ia tidak tahu dibuat kapan. Rangkaian tarian, sosok wanita tak berkepala, hingga gambar dirinya sendiri dengan mata dicoret.