Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #11

Rumah Belian Tua

Rumah Belian Tua Basiroh berdiri di ujung kampung, menghadap ke hutan kecil yang dipenuhi pohon ulin tua. Rumah panggung itu terlihat seperti menolak waktu catnya mengelupas, kayunya retak-retak, tapi tetap berdiri dengan wibawa yang membuat siapa pun ragu untuk masuk sembarangan.

Langkah mereka berat. Tak hanya karena lelah setelah malam yang mengguncang, tapi karena setiap langkah ke arah rumah itu seperti mendekat ke nadi kegelapan yang selama ini hanya mengintai. Kini ia menatap balik.

Dayang Laras mengetuk tiga kali, perlahan. Tak ada jawaban. Tapi pintu terbuka sedikit, seolah tahu siapa yang datang. Udara dingin menyergap dari dalam, tak masuk akal di siang hari yang panas.

“Tua Basiroh…” panggil Laras pelan.

Di dalam, duduklah perempuan tua berselendang merah, rambutnya panjang dan putih, matanya tajam meski tubuhnya terlihat ringkih. Ia tak bicara langsung. Ia hanya memandangi mereka satu per satu, lama… terlalu lama.

Lalu ia berkata, “Salah satu dari kita tu sudah ditandai. Dan tandanya ndik bisa dihapus, kecuali dengan darah.”

Tasya menggigil. Ia berdiri paling dekat dengan Basiroh, dan entah kenapa matanya mulai berkaca-kaca. “Aku... merasa pernah di sini,” katanya. “Tapi... bukan sebagai diriku.”

Belian Basiroh menoleh padanya, tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Karena awak pernah. Tapi tidak di dalam tubuh ni.”

Mereka semua diam.

Laras mundur selangkah. Dadanya sesak, seolah ruangan itu menyusut. Ia ingat mimpi-mimpi yang semakin sering dating hutan yang bersuara, suara langkah di balik punggungnya, dan penari berselendang merah yang menatapnya di cermin.

Lihat selengkapnya