Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #12

Penari Tanpa Wajah

Udara malam di Tenggarong menebal seperti kabut. Tak terlihat, tapi terasa menusuk ke dalam kulit. Angin tak berhembus, tapi daun-daun pohon di halaman penginapan bergoyang seperti dijentik sesuatu yang tak kasat mata.

Di dalam kamar, Gilang duduk kaku di depan laptop. Matanya merah, bukan karena begadang tapi karena takut. Tangannya gemetar saat menyeret timeline video, kembali ke detik-detik sebelum semuanya berubah.

Itu adalah rekaman dari malam sebelumnya saat Nadia menari dengan mata kosong dan tubuhnya meliuk aneh di pinggir Sungai Mahakam. Awalnya, Gilang mengira itu hanya footage biasa dari kerasukan. Tapi makin dia perhatikan, makin banyak detail ganjil yang muncul.

Pada detik ke-24, bayangan mulai terlihat di belakang Nadia.

Bayangan itu tidak tertangkap oleh mata mereka saat kejadian, tapi jelas sekali terekam kamera.

Sosok itu berdiri di antara pepohonan. Tubuhnya bergerak perlahan, seperti ikut menari. Tapi wajahnya... kosong. Seperti seseorang yang memakai topeng putih tanpa ekspresi. Atau lebih buruk lagi seperti wajah yang telah dihapus.

Gilang membekap mulutnya sendiri saat melihat rekaman itu. Saat sosok penari tanpa wajah berputar, bahunya naik turun, dan seolah… menoleh ke arah kamera.

Mereka sedang diawasi.

Atau... direkam balik.

Suara dari video mendadak hilang. Hanya hening. Bahkan bunyi jangkrik yang semestinya masuk rekaman pun lenyap.

Gilang segera menutup laptop. Nafasnya tercekat. Ruangan terasa lebih dingin, atau mungkin itu hanya rasa takut yang mulai merayap naik di punggungnya.

Di kamar sebelah, Nadia merintih pelan. Tubuhnya dibungkus selimut tebal, tapi kulitnya tetap memerah, seperti luka bakar ringan yang muncul tanpa sebab. Tangannya terus menggaruk-garuk bagian lengan dan perut, seperti ada api yang merayap dari dalam.

Tasya membasuh dahi Nadia dengan air hangat. Tapi itu tak banyak membantu.

“Aku gak kuat, Tas…” desah Nadia. “Setiap malam… rasa panasnya makin parah. Seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhku. Aku bahkan bisa dengar… suara dia… berbisik di telingaku.”

Tasya menggenggam tangan Nadia lebih erat.

Lihat selengkapnya