Angin malam menyelinap masuk lewat celah jendela kayu rumah penginapan tua yang mereka sewa selama festival. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, tapi tak seorang pun dari mereka bisa benar-benar tertidur. Bayangan penari tanpa wajah yang terekam dalam video masih menjadi bahan pembicaraan dan kecemasan.
Reno duduk bersandar di dinding dekat kasur, menatap layar ponselnya yang kosong dari sinyal. Tasya tertidur tak nyenyak di sudut ruangan, sementara Laras gelisah berjalan mondar-mandir. Wajahnya tegang, seperti ada sesuatu yang terus menghantui pikirannya. Ia menatap sudut kamar, tepat ke arah sebuah benda besar yang ditutup kain putih kusam. Bentuknya mencolok sebuah cermin tinggi berbingkai ukiran tua, tampak seperti benda yang tak seharusnya ada di kamar itu.
"Apa itu dari tadi di sana?" tanya Reno pelan, suaranya nyaris berbisik.
Laras berhenti. Matanya lebar. "Itu... cermin tua. Jangan didekati. Jangan dibuka. Belian Basiroh sudah bilang ada yang tersegel di baliknya. Dulu, cermin itu dipakai saat upacara pemanggilan arwah penari yang mati muda."
Reno langsung menunduk, merasa tak nyaman. Namun percakapan mereka rupanya terdengar oleh seseorang dari ruangan sebelah.
Langkah berat terdengar mendekat. Pintu terbuka dengan suara berderit, dan muncullah Gilang, dengan mata merah dan senyum sinis di bibirnya.
“Laras, kamu serius banget sih,” ucapnya santai. “Kita kan cuma di rumah tua. Jangan bawa-bawa takhayul.”
“Gilang, jangan main-main! Cermin itu... bukan untuk dibuka!”
Namun, peringatan Laras terlambat.
Dengan gerakan cepat dan sembrono, Gilang menarik kain penutup itu. Seketika, udara di dalam kamar berubah. Lebih dingin. Lebih sunyi. Lebih berat.