Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #14

Yang Menari dalam Mimpi

Hujan turun deras di luar rumah penginapan yang seakan menjerat waktu malam menjadi lebih dalam dan lebih pekat. Aroma tanah basah dan kayu tua yang lembap memenuhi tiap sudut ruangan, bercampur bau kemenyan samar yang entah datang dari mana.

Mereka semua berkumpul di ruang tengah. Laras duduk di kursi rotan dengan tatapan kosong, wajahnya pucat dan tangan masih gemetar. Tasya dan Reno duduk bersandar di dinding, masih syok. Wajah Reno tampak pucat pasi, sementara Tasya memegangi lengan kirinya yang tadi disentuh oleh sosok tak kasat mata.

Adit dan Nadia baru kembali dari luar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Keduanya memandang keheranan melihat ketegangan yang membekukan udara.

"Ada apa ini?" tanya Nadia, melangkah cepat ke arah Laras. "Kenapa kalian seperti habis lari dari hutan?"

Reno mengangkat kepala, mencoba membuka mulut, namun tak satu kata pun keluar. Hanya Laras yang berdiri dan menatap lurus ke arah Gilang yang duduk santai di pojok ruangan, seolah tak terjadi apa-apa.

"Gilang..." suara Laras lirih namun menusuk, "kau buka cermin itu."

Semua pandangan kini tertuju pada Gilang.

"Apa maksudmu?" tanya Adit, bingung.

"Cermin itu… yang ditutup kain di kamar ujung," bisik Laras. "Sudah aku larang… Aku sudah bilang jangan disentuh. Jangan diangkat…"

Gilang mengangkat alis, memasang wajah polos. "Cuma iseng, Laras. Bercanda doang. Lagian, itu cuma cermin tua. Kamu terlalu lebay."

Laras melangkah maju, wajahnya penuh emosi yang tertahan. "Bercanda? KAU PIKIR INI BERCANDA?!"

Suara Laras menggema di ruangan, membuat semua diam.

"Gilang…" ucap Reno pelan, "waktu kamu buka cermin itu… kau pingsan. Tapi… waktu kami lari, kamu bangun seperti biasa. Kau jalan ke dapur… ambil air minum… dan senyum. Kau… bukan kau, Gilang."

Gilang tertawa kecil. "Kalian semua terlalu larut dalam cerita mistis."

Tiba-tiba… lampu berkedip. Suara gemuruh dari luar seolah menekan dinding rumah. Semua terdiam. Jantung Nadia berdegup lebih cepat.

Lihat selengkapnya