Pagi itu, aroma sungai dan bau dupa bercampur dalam udara lembab Tenggarong. Matahari sudah tinggi, namun rasa kantuk dan kepenatan masih menggantung di wajah mereka. Tasya dan Reno tampak masih pucat, sementara Adit dan Nadia baru saja bergabung, tidak tahu apa yang terjadi malam sebelumnya. Hanya Laras yang tampak cemas, terus menatap Gilang yang duduk terpaku di sudut, matanya kosong seperti boneka yang kehabisan nyawa.
“Dia kenapa?” tanya Adit pelan.
Laras tak menjawab. Ia hanya menggeleng, dan menatap Raga yang baru datang. Pria tua itu berdiri di ambang pintu, mengenakan sarung tenun hitam dan ikat kepala kuning emas.
“Laras… kau tahu dia sudah terbuka,” kata Raga dengan suara nyaris berbisik. “Gilang bukan sekadar pengganggu. Dia… pintu.”
Semua mata langsung tertuju pada Gilang. Reno memicingkan mata, seolah baru menyadari bahwa Gilang sudah beberapa waktu tak terlihat dalam pantulan kamera. Bukan hanya hari itu tapi sejak dua hari lalu, setiap hasil rekaman yang mereka putar, sosok Gilang entah mengapa selalu samar, buram, atau bahkan hilang.
Mereka harus tetap bekerja. Festival Erau memasuki hari terakhir: Belimbur dan Belaboh Naga. Kota penuh dengan tawa, guyuran air, dan barisan manusia yang bersorak menyambut naga raksasa dari sungai Mahakam. Tapi bagi mereka, tawa itu tak benar-benar hidup.
Di tengah keramaian, Nadia menggigil. Ia memegang kamera dan menyapu pemandangan ramai, ketika lensa menangkap sosok perempuan berjubah putih berdiri di bawah payung kuning. Wajahnya tenang. Tapi saat Nadia memperbesar gambar, perempuan itu menoleh dan tersenyum dengan senyum yang terlalu lebar, menembus pipi, giginya terlalu banyak, dan matanya menghitam.
“Astaga…” Nadia mundur selangkah.
“Ada yang aneh?” tanya Adit.
Nadia tak menjawab. Tapi saat ia menurunkan kameranya, perempuan itu sudah tak ada.
Di sisi lain, Reno melihat seorang lelaki tua membawa kendi besar berisi air. Ia menyiramkan air itu ke arah para peserta belimbur, tapi setiap kali air terciprat, Reno merasa tubuhnya seperti terbakar dingin. Ketika lelaki itu melirik ke arahnya, wajahnya menua seketika. Mata lelaki itu seperti mata ikan mati, tapi mulutnya berbisik:
“Kamu ikut membukanya, kamu harus menutupnya…”
Reno gemetar. Ia mundur dan menabrak Tasya, yang sejak tadi diam. Ia terus menatap ke arah panggung utama di tepi sungai, tempat naga raksasa siap dibelaboh. Tapi bukan itu yang membuatnya terdiam.