Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #16

Pantangan Terlanggar

Sungai Mahakam siang itu tampak megah dalam semarak pesta rakyat. Ribuan orang berkumpul di tepiannya, menanti momen Belimbur dan Belaboh Naga. Riuh sorak sorai tumpah bersama semburan air, gelak tawa anak-anak, dan tabuhan gamelan yang membahana dari ujung ke ujung.

Tapi tak semua yang hadir merayakan dengan hati lega.

Di tengah keramaian, ada yang membeku. Yang matanya tak lagi melihat manusia, melainkan bayangan samar-samar yang menyelinap di antara para penonton. Yang telinganya bukan mendengar suara gembira, tapi bisikan yang datang dari dasar air.

Gilang berdiri di pinggir sungai. Diam. Sorot matanya kosong. Nafasnya berat.

“Gilang! Jangan terlalu dekat!” seru Laras dari belakang, wajahnya cemas. Tapi Gilang seperti tak mendengar.

Langkah kakinya terus maju ke arah sungai. Air menyentuh sepatu, lalu celana, lalu lututnya. Warga lokal di sekitar tak menaruh curiga pesta air seperti ini biasa melibatkan orang masuk ke sungai. Tapi Laras, Reno, Nadia, dan Adit tahu ada yang tidak beres.

Sudah sejak pagi, Gilang seperti bukan dirinya. Tak bicara, tak tertawa, hanya patuh ketika diarahkan. Seperti boneka yang dipegang benang tak kasat mata.

Dan kini, di air Mahakam yang bergelombang pelan itu, Gilang menunduk. Tangannya terulur.

Laras berlari, diikuti Reno dan Adit. Tasya mematung, wajahnya pucat. Ia melihat sesuatu berdiri di belakang Gilang sosok tinggi, ramping, mengenakan jubah putih basah yang menggantung seperti lumut. Rambutnya panjang, menutup separuh wajah. Tangan keriputnya menunjuk ke dalam air.

“Gilang... jangan...” bisik Tasya, hampir tak terdengar.

Namun Gilang menyelamkan tangannya lebih dalam.

Dalam sepersekian detik, air di sekitar tangannya membentuk pusaran kecil. Buih muncul. Dan... ia menarik keluar sebuah benda kayu tua, berbentuk seperti gagang kipas lipat, berukir dengan motif naga dan api.

“Apa itu?” tanya Reno, terengah.

Tapi saat benda itu muncul ke permukaan, udara berubah.

Langit yang sebelumnya cerah, mendadak gelap. Angin berputar kencang. Daun-daun beterbangan meski tak ada pepohonan dekat. Lalu...

“Lihat!” seru Adit sambil menunjuk ke langit.

Lihat selengkapnya