Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #18

Perahu Arwah

Langit Tenggarong malam itu tidak sepenuhnya gelap, tapi juga tidak sepenuhnya terang. Bulan menggantung pucat di balik awan tipis, seakan tak berani menyinari Mahakam yang kini berubah menjadi batas antara dunia.

Jukung kayu tua milik Awang Dewa berderit pelan saat menyentuh permukaan sungai. Air Mahakam memantulkan bayangan mereka tapi sesuatu terasa aneh. Bayangan itu kadang hilang, kadang berganda. Kadang... bukan milik mereka.

Mereka naik satu per satu: Aji Raga Brata, Basiroh, Laras, Reno, Adit, Nadia, Gilang, dan Tasya. Awang Dewa berdiri di ujung jukung, menatap arus sungai yang bergerak lambat seperti darah kental.

“Pandangin baik-baik. Bukan semua bisa lihat,” gumamnya. “Tapi malam ini, batasnya tipis.”

Jukung itu melaju perlahan, seolah tidak bergerak karena dayung, melainkan ditarik oleh arus tak terlihat.

Di sisi kiri sungai, sosok-sosok mulai muncul. Mereka berjalan di atas air. Puluhan. Ratusan.

Mereka tidak berpakaian masa kini. Ada yang bersarung, ada yang berkain putih lusuh, dan sebagian... berpakaian kolonial. Wajah mereka kosong, matanya hitam. Ada yang membawa obor kecil, ada yang menggenggam keris.

Tasya gemetar. Ia menatap sungai dan di antara pantulan wajah-wajah arwah itu ia melihat dirinya. Bukan sebagai dirinya yang sekarang. Tapi sebagai seorang gadis Belanda, mengenakan gaun putih renda, dengan wajah yang sama... hanya lebih pucat, lebih dingin.

“Aku... pernah di sini,” bisiknya pelan. “Aku pernah ikut ritual ini... Tapi... aku meninggal.”

Nadia menggenggam tangannya. “Itu bukan kamu itu bukan nyata.”

Tasya memejamkan mata. Tapi suara air, napas arwah, dan desau angin terus memanggilnya. Ia mulai gemetar hebat. “Aku bukan hanya pernah ada di sini. Aku bagian dari ini... aku bagian dari mereka…”

Reno merangkulnya, tetapi hawa dingin menjalar dari tubuh Tasya seperti kabut. Semua diam. Bahkan suara malam seakan tersedot ke dalam perahu itu.

Di ujung jukung, Aji Raga mulai berdoa dalam bahasa Kutai. Suaranya serak namun kuat

Basiroh menyahut, duduk bersila di tengah jukung dengan dupa dan segenggam bunga.

Lihat selengkapnya