Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #19

Tarian Pemanggil

Langit di atas Sungai Mahakam menghitam tanpa peringatan. Angin yang tadinya berhembus lembut perlahan berubah dingin dan membawa aroma amis yang menusuk. Kabut naik dari permukaan air, menebal seiring jukung mereka melaju ke arah tengah sungai yang dikenal sebagai Palung Tua daerah yang bahkan nelayan enggan sentuh saat malam turun.

Laras duduk mematung di buritan perahu. Matanya kosong, namun tubuhnya tegak seperti dipandu kekuatan yang bukan miliknya. Awang Dewa di sisinya terus membacakan mantra dalam bahasa Kutai kuno, sementara Aji Raga dan Basiroh bersila di tengah jukung dengan mata tertutup rapat, komat-kamit dengan gumaman puji dan permohonan.

Tasya menggigil. Bukan karena angin, tapi karena suara itu.

Gamelan.

Lembut. Halus. Tapi jelas terdengar. Irama gamelan yang tidak masuk akal di tengah aliran sungai Mahakam. Tidak ada pengeras suara, tidak ada daratan. Namun gamelan mengalun seperti berasal dari bawah perahu mereka.

“Dengar... itu apa?” gumam Adit. Suaranya parau.

Tasya berdiri perlahan. Matanya sayu, bibirnya tersenyum samar. Dia mulai bergerak. Lembut. Satu tangan terangkat, satu kaki melangkah. Tubuhnya menari.

"Jepen..." bisik Reno. "Itu tarian Jepen..."

"Mana mungkin?" Adit menahan napas. “Tasya nggak pernah bisa nari. Kita tahu itu.”

Namun Tasya terus menari. Gerakannya anggun, lembut, seolah tubuhnya mengalir bersama gamelan. Bukan hanya tubuhnya yang menari tapi sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih purba sedang memakai tubuhnya untuk menyampaikan sesuatu.

Nadia hendak maju, tapi Laras atau lebih tepatnya Datu Kalungking dalam tubuh Laras mendampratnya dengan suara serak, dalam, dan tegas.

Jangan!Biarkan aja inya nari jangan di ganggu itu persembahan awal!

Semua membeku. Laras menatap mereka dengan sorot tajam yang bukan miliknya.

“Laras?” tanya Reno dengan suara gemetar.

Namun itu bukan Laras.

“Persembahan pertama telah diterima,” ujar Datu dalam bahasa Kutai yang berat. “Ritual sudah dimulai. Tidak ada jalan kembali.”

Suasana di sekitar mereka mendadak berubah. Sungai yang tadinya beriak tenang mendadak diam. Angin berhenti. Gamelan makin kencang. Dari balik kabut, sosok-sosok mulai muncul di pinggir sungai.

Mereka tidak berjalan. Tidak melayang. Mereka hanya muncul berdiri diam menonton seperti penonton upacara. Mata kosong. Kulit basah. Ada yang telanjang dada dengan tubuh penuh luka bakar. Ada wanita dengan leher berputar ke belakang. Ada anak kecil yang hanya menatap, memeluk boneka rusak.

"Jangan lihat mereka..." bisik Awang Dewa. “Kalau mereka merasa dilihat, mereka akan merasa diajak.”

Namun Reno sudah menatap satu di antaranya terlalu lama. Sosok itu wanita tua berambut basah panjang hingga menyentuh air perlahan membuka mulutnya. Darah hitam menetes, dan suara tangis bayi terdengar dari dalam kerongkongannya.

Reno jatuh duduk, matanya merah.

Lihat selengkapnya