Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #20

Penebusan atau Pengorbanan

Sunyi.

Setelah denting gamelan terakhir menghilang di udara yang penuh kabut, tidak ada satu pun suara yang tersisa. Bahkan suara aliran sungai pun seakan tertahan, ditelan oleh kekosongan yang merayap diam-diam.

Tasya dan Gilang berdiri diam di tengah jukung, napas mereka terengah, keringat membasahi wajah. Tubuh mereka seperti kembali dari dunia lain. Mata Tasya kembali cerah, seolah baru sadar dari tidur panjang. Namun Gilang... matanya masih hitam. Tak berkedip. Tak bernyawa.

Reno menggenggam tangan Tasya erat. Adit memegangi lengan Nadya yang hampir limbung. Laras berdiri terpaku, masih dalam pengaruh Datuk Kalungking. Tapi kali ini, ia tampak bingung. Seperti kehilangan arah.

“Laras… Laras?” Tasya berbisik, suaranya pecah. “Datuk...?”

Tiba-tiba, dari sisi perahu, air sungai terbelah. Bukan karena arus tapi karena sesuatu yang sangat besar bergerak di dalamnya.

Gelombang air naik perlahan. Bayangan hitam menyembul dari permukaan.

Sosok itu berdiri. Tingginya lebih dari tiga meter. Tubuhnya hitam legam seperti arang basah. Rambutnya panjang, menjuntai sampai dada. Wajahnya tak memiliki mata, hanya rongga gelap dan senyum menyeringai dari rahang yang terlalu besar untuk wajah manusia.

Aroma amis darah dan belerang menyebar ke udara. Angin berhenti bertiup.

Adit mundur satu langkah, napasnya tercekat. “Ya Tuhan... apa itu…”

Sosok itu menatap mereka semua tanpa mata. Namun, rasa diawasi begitu nyata, menusuk hingga tulang. Jantung Reno berdetak terlalu kencang, seperti akan melonjak keluar dari dadanya.

Nadya mulai menangis. Tubuhnya bergetar hebat.

“A-aji Raga? Awang Dewa? Basiroh?” panggil Reno panik.

Tak ada jawaban.

Mereka bertiga menghilang. Entah ke mana.

Yang tersisa hanya kabut… dan sosok hitam raksasa itu yang kini mengangkat tangannya perlahan.

Tiba-tiba, langit yang tadi gelap berubah menjadi cahaya merah darah. Sungai Mahakam yang tadi tenang mulai berputar seperti pusaran neraka. Perahu mereka terangkat… dan kemudian tenggelam dalam sekali hentak.

Semua berteriak.

Lalu…

Gelap.

Lihat selengkapnya