Udara pagi Mahakam menyambut mereka dengan sinar fajar keemasan yang semu. Burung-burung bernyanyi seperti biasa. Aroma tanah basah dan embun bercampur menjadi satu. Semua seperti normal…
Terlalu normal.
Perahu perlahan merapat di dermaga kayu. Laras, Adit, Reno, Tasya, dan Nadya turun dengan langkah tertatih. Tubuh mereka lelah luar biasa, tapi bukan hanya karena fisik. Jiwa mereka seperti baru kembali dari peperangan Panjang tak kasat mata, tak terucap, tapi membekas di tiap gerakan.
Tak ada yang bicara sepanjang jalan ke penginapan.
Aji Raga, Tua Basiroh, dan Awang Dewa mengantar mereka, tapi tatapan mereka murung. Tidak ada ucapan selamat atau “terima kasih atas pengorbanannya.” Semua tahu apa yang telah terjadi. Apa yang telah dikorbankan. Gilang.
Di dalam mobil, Nadya sesekali terisak. Tasya memegang tangannya erat. Reno duduk mematung, bola matanya tampak kosong. Adit hanya menatap keluar jendela, bibirnya tertutup rapat. Laras, yang duduk paling belakang, menggenggam liontin peninggalan Datuk Kalungking. Mata Laras menatap ke bawah, tapi pikirannya jauh melayang ke tempat gelap yang tidak ingin ia kunjungi lagi.
Semua… hancur di dalam. Tapi tetap diam.
Pukul 07.30 pagi Sesampainya di penginapan, suasana berubah drastis.
Di depan ruang makan yang biasa mereka pakai, terdengar suara tertawa.
Suara berat, santai, dan tidak salah lagi suara Gilang.
“...ya kali, gue semalam tidur paling nyenyak, bro. Lho semua pada ke mana, sih? Pada mabok ya?”
Mereka semua berhenti di ambang pintu. Jantung mereka seperti berhenti.
Gilang.
Duduk di meja sarapan. Memakai hoodie hitam yang sama. Rambut acak-acakan. Makan nasi goreng sambil memutar sendok.
Tatapannya santai. Bahkan terlalu santai.
Tasya menjatuhkan gelas air yang baru saja ia ambil dari pantry. Gelas itu pecah di lantai, tapi tak satu pun dari mereka memperhatikan.
“...G-Gilang?” bisik Nadya, hampir tak terdengar.
Gilang menoleh. Bibirnya tersenyum.
“Eh, lo semua ngapain? Pada ngeliatin gue kayak liat pocong!”