Sudah tiga hari berlalu sejak malam panjang itu. Festival telah berakhir. Perahu-perahu yang kemarin penuh hiasan dan nyanyian kini teronggok di dermaga, sunyi. Kota Tenggarong kembali ke rutinitasnya. Warung-warung buka seperti biasa, anak-anak bermain layang-layang di tepi sungai, dan suara azan kembali jadi satu-satunya gema saat senja datang.
Di penginapan tua tempat mereka menginap, suasana juga tak seaneh beberapa hari lalu. Tak ada lagi suara langkah tanpa wujud. Tak ada bayangan yang menyelinap di cermin. Tapi satu hal yang berbeda: Laras tak banyak bicara.
Ia duduk di teras, menatap langit samar. Matanya bengkak karena kurang tidur. Di tangannya, gelang rajutan warna merah masih melingkar..
“Udah sarapan?” Adit mendekat, membawa dua gelas teh hangat.
Laras mengangguk. “Sedikit.”
“kamu masih mikirin malam itu?”
Laras menoleh perlahan. “Semua orang harusnya mikirin itu.”
Adit mengangguk, menarik napas panjang. “Tapi festivalkan udah selesai. Kita semua selamat. Harusnya kita pulang, ras”
Dari dalam kamar, Reno dan Nadya mulai merapikan barang. Suara koper diseret terdengar jelas.
“Jam tiga sore kita dijemput buat ke bandara ya,” seru Nadya dari balik pintu. “Semua udah siap?”
Tasya yang sedang duduk di ambang jendela, hanya menjawab pelan, “Tinggal satu orang yang belum siap.”
Semua mata memandang ke arah kamar Gilang.
Beberapa menit kemudian, Gilang keluar. Tapi bukan dengan koper. Ia hanya membawa tas selempang kecil dan sebuah map tua yang digulung.
“Gilang?” tanya Reno, agak kaget. “Kok nggak bawa koper?”
Gilang memandang mereka satu per satu, lalu berkata pelan tapi tegas.
“Gw nggak ikut pulang.”
Seketika suasana menjadi beku. Adit berdiri kaku. Nadya memegang koper erat. Laras menunduk, menahan napas. Hanya Tasya yang terlihat tidak terkejut.