Langit Tenggarong mendung. Angin yang biasanya lembut, kini menghembus seperti bisikan-bisikan yang menyelinap di antara dedaunan. Di halaman belakang Museum Mulawarman, langkah kaki mereka bergema, pelan tapi pasti, menuju sebuah tempat yang hanya disebut dalam bisik-bisik: Lamin Batu.
Laras menatap bangunan tua yang berdiri di belakang museum itu. Bukan bangunan besar. Tapi ada yang lain dari Lamin itu auranya berat, senyap, dan… menunggu.
Gilang berjalan paling depan, langkahnya mantap meski matanya tampak seperti orang yang tidak benar-benar ada di sini. Reno menyusul di belakangnya bersama Nadya dan Adit, yang masih membawa sisa trauma dari malam ritual di Sungai Mahakam. Tasya melangkah terakhir, dekat dengan Laras. Mereka semua seolah ditarik ke tempat ini, bukan karena keinginan, tapi… kewajiban.
Saat mereka hampir mencapai tangga kayu tua menuju pintu Lamin Batu, dua sosok telah berdiri di sana. Seakan tahu mereka akan datang.
Aji Raga Brata, dengan pakaian adat lengkap, berdiri dengan mata tajam namun sendu. Di sisinya, Tua Baisaroh mengenakan selendang tenun merah darah yang membuatnya terlihat seperti berasal dari dunia lain.
Tak ada sapaan. Tak ada kata pembuka.
Hanya keheningan… dan tatapan berat.
Ketika Laras hendak melangkah, tangan Aji Raga mencengkeram pergelangannya. Erat.
“Awak ndik harus umpat masuk ke dalam,” gumam Aji Raga nyaris tak terdengar. “Tapi namun awak ndak tetap masuk… pastikan awak siap kehilangan yang lebeh dari sekadar jawaban.”
Laras menelan ludah, tubuhnya menegang.
Tua Baisaroh tak berbicara. Ia hanya menatap Tasya, dalam, seakan bicara lewat mata. Tatapan itu bukan larangan, bukan juga izin. Lebih seperti… peringatan.
Kemudian, Aji Raga membuka genggamannya dan merogoh saku kain tenunnya. Ia mengeluarkan sebuah kalung tua: liontin bundar dari batu obsidian, diikat dengan benang dari rambut yang telah berubah abu-abu.
“Kalung ini milik keturunan terakhir dari Belian Pertama,” ucap Aji Raga. “Dan darah itu… mengalir dalam dirimu, Laras.”
Laras gemetar saat menerima kalung itu. Begitu kalung itu menyentuh kulitnya, ada getaran halus seperti aliran listrik. Matanya refleks menatap ke atas Lamin.
“Leluhur akan menjagamu,” tambah Tua Baisaroh, sebelum mereka melangkah mundur.
Tak ada kunci. Tak ada ritual pembuka. Pintu Lamin Batu terbuka sendiri.
Begitu mereka melangkah masuk, udara berubah.
Suhu turun drastis. Wangi dupa, tanah basah, dan darah kering seakan memenuhi ruang sempit itu. Langit-langitnya rendah, tapi dindingnya seolah berdenyut hidup. Lamin Batu bukan hanya bangunan ia seperti makhluk tua yang sedang tidur, dan mereka baru saja membangunkannya.