Langit Tenggarong sore itu mendung. Hujan tidak turun, tapi kabut tipis menyelimuti halaman Lamin Batu seolah ikut berkabung.
Laras memeluk dirinya sendiri. Reno berdiri di sebelah Tasya, yang mematung sejak mereka keluar dari Lamin Batu. Adit berjalan mondar-mandir dengan napas berat, matanya merah, entah karena kelelahan atau amarah yang ia tahan.
Tak ada yang bicara. Bahkan suara serangga pun seperti enggan mengganggu keheningan.
Gilang tak keluar bersama mereka.
Dia memilih tetap di dalam Lamin Batu atau lebih tepatnya, dia harus tetap di sana.
Semua menyadari... mereka telah kehilangan Gilang.
Suara langkah pelan memecah kesunyian. Seorang pria tua bersorban tenun hitam dan selendang batik Kutai berjalan perlahan dari balik gerbang belakang. Janggutnya putih lebat, matanya redup tapi dalam, seolah menyimpan beribu kisah.
Aji Raga Brata dan Tua Basiroh sontak menunduk hormat. “Datok Gubang,” bisik Basiroh dengan suara gemetar.
Orang tua itu berhenti di depan mereka, menatap satu per satu, lalu memejamkan mata.
“Aku datang lain untuk meredam duka kalian,” katanya lirih, “tapi untuk menjelaskan semua.”
Tasya menggenggam tangan Laras erat. Adit melangkah maju, matanya tajam.
“Maaf siapa Anda?”