Erau: Festival untuk yang Hidup dan Mati"

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #25

Satu Jiwa di Mahakam

Tiga hari setelah perpisahan terakhir di Lamin Batu, larik sunyi menggantung di udara Tenggarong. Tapi sunyi itu pecah pagi itu, saat jasad Gilang ditemukan mengambang di tepian Sungai Mahakam.

Seorang pemancing yang tengah mencari ikan melihat tubuh itu pertama kali. Terbaring pelan di air, seperti tidur, dengan wajah damai tapi pucat pasi. Tidak ada luka. Tidak ada lebam. Tidak ada bekas cekikan. Tidak juga jejak tenggelam.

Polisi datang.

Warga berkumpul.

Adit tak berhenti menangis sejak menerima kabar. Reno hanya bisa menatap kosong ke arah ambulans yang membawa jenazah. Nadya menggenggam lengan Laras erat, tubuhnya gemetar.

Mereka tahu… Gilang tidak mati karena bunuh diri.

Tapi mereka juga tahu, tak seorang pun bisa menjelaskan kebenaran itu. Bahkan polisi yang memeriksa pun terlihat ragu, seakan tahu ada sesuatu yang tak terlihat di balik tubuh itu. Mereka menyebutnya kematian "misterius" dan menutup kasus dengan label "bunuh diri tanpa kekerasan."

Namun mereka yang mengalami langsung… hanya bisa diam dan mendoakan.

Pemakaman dilakukan secara keluarga, sederhana tapi penuh air mata. Gilang dimakamkan di pemakaman leluhur Gubang Jaya, di lereng kecil yang menghadap langsung ke Mahakam. Angin dari sungai berhembus pelan saat jenazahnya diturunkan ke tanah.

Tangis Tasya pecah paling keras.

Adit berdiri di dekat batu nisan, tubuhnya tak bergerak, matanya merah dan kering karena terlalu banyak menangis sebelumnya.

Nadya dan Reno berpelukan. Laras berdiri agak jauh, menunduk dalam. Ada luka dalam hatinya yang tak bisa disembuhkan oleh waktu.

Malam harinya, usai doa tahlil terakhir di rumah Tua Baisaroh, laras duduk sendirian di beranda.

Langit Tenggarong malam itu terang. Tapi hawa di dalam hatinya dingin dan kosong. Suara langkah pelan membuatnya menoleh.

Lihat selengkapnya