Pagi itu langit Tenggarong mendung, seolah ikut merasakan berat langkah mereka bertiga Adit, Nadia, dan Reno menuju mobil travel yang akan membawa mereka kembali ke bandara APT Pranoto, Samarinda.
Dulu, saat mereka datang, lima orang menginjakkan kaki dengan penuh semangat dan tawa, siap membuat dokumenter yang katanya "mistis, tapi tetap seru." Sekarang, hanya tiga yang pulang. Sunyi, penuh beban.
Gilang tertinggal. Bukan karena ia ingin. Tapi karena ia harus
Di pelataran rumah kayu Laras, Tasya berdiri memeluk satu per satu mereka. Matanya sembab, tapi langkahnya mantap. Ia memutuskan untuk tinggal di Tenggarong. Bukan karena lari, tapi karena panggilan jiwa.
Laras memutuskan membuka pintu rumahnya untuk Tasya. Sejak kejadian itu, hubungan mereka seperti kakak dan adik. Laras yang dulu tertutup dan hanya bicara soal ritual dan larangan adat, kini mulai terbuka, tersenyum, dan bahkan kadang ikut tertawa kecil. Luka lama yang ia pendam karena kehilangan keluarganya di masa kecil, perlahan sembuh bersama Tasya.
"Inya lain hanya dijaga oleh leluhur. Tapi dipilih," ucap Basiroh saat malam tahlilan terakhir untuk Gilang, menatap Tasya dengan mata sayu namun teduh.
“Dipilih?” Adit waktu itu bertanya.
“Iya. Sosok perempuan yang menari malam tu, lain hanya penjaga. Dia adalah penuntun. Dia tak mengikuti sembarang orang. Hanya yang jiwanya bersih dan memiliki benang merah dengan tanah ini,” jawab Basiroh pelan.