Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #2

Eps. 1 Kenangan yang Dicuri


“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran.

Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh anggukan kecil. “Oh, gelas Mas tadi udah saya bawa ke belakang,” jawabnya kemudian santai.

Gue menggeleng cepat, “Bukan gelas, Mbak!” Refleks dahi gue mengerut menahan kesal. “Lho… terus apa, Mas?” Pelayan itu tampak makin bingung. “Tadi kan saya ada titip sesuatu, sebelum saya ke kamar kecil, inget nggak?” tanya gue, penuh penyesalan atas kecerobohan yang baru saja gue lakukan.

Ia tampak berpikir, namun tatapannya kosong. “Hmm… yang mana ya?” dengan raut wajahnya yang seperti mahasiswa salah masuk kelas ujian, pelayan itu memastikan. “Yang bentuknya kayak buku itu, Mbak. Scrapbook. Sekarang di mana benda itu?” Kesabaran gue mulai menipis.

“Sekrabuk?” ulangnya, kini dengan ekspresi tersesat. Ia menengok ke kanan, kiri, lalu belakang, mencari rekan kerja yang mungkin dapat membantunya. Namun sayangnya di area service hanya ada kami berdua.

Tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya ke arah telinga gue. Tanpa sadar gue mundur setengah langkah. Pertahanan diri gue mode siaga penuh. Tidak menyerah, ia membusungkan tubuhnya sedikit. Mulutnya ikut maju dua senti. “Ngomong-ngomong… sekrabuk itu apa ya, Mas?” bisiknya kemudian.

Refleks gue menyeringai stres. “Scrapbook! Scrap-to the-book, Mbak. Bukan sekrabuk. Saya serius lho ini, Mbak!” tegas gue dengan kedua bola mata yang membesar. “Lho, saya juga nggak bercanda kok, Mas. Saya emang nggak tau. Kalo Facebook, saya tau,” balasnya dengan senyum iklan pasta gigi kadaluarsa, yang justru membuat emosi gue naik hingga ke ubun-ubun.

Gue pun menarik napas panjang sejenak. Saatnya memanggil seluruh energi positif di alam semesta. “Whooosaaaah…”

“Jadi gini, Mbak. Tadi… waktu saya duduk di meja ini. Saya kan ada nulis-nulis di buku tuh, yang hampir ketumpahan kopi saya tadi, inget nggak?” Tanya gue sekali lagi, dengan nada ramah bak sekuriti bank swasta.

“Oooh, inget-inget, Mas!” Tampak terlihat ekspresinya seperti menang kuis. “Kalo saya nyebutnya itu buku diare, Mas,” lanjutnya, sukses membekukan otak gue selama lima detik.

Di… diary, Mbak. Bukan diare,” koreksi gue halus. “Eh, iya! Kalo diare mah saya tadi pagi. Perut mules-mules, salah makan kayaknya.” Ia mengusap perutnya bangga, seolah itu adalah sebuah prestasi. Sementara kesabaran gue hampir copot dan pindah ke dimensi lain. Bodo amat!

“Jadi, intinya—Mbak liat nggak?!” tegas gue untuk kesekian kalinya. “Yah, saya kurang merhatiin, Mas. Tadi sewaktu saya bersihkan gelas sih masih ada. Tapi… pas saya balik lagi, ah! Terkejutlah saya,” jawabnya dramatis. Gue menahan napas. “Kenapa, Mbak?”

 “Buku itu tiba-tiba hilang! Padahal saya kan bukan pesulap,” lanjutnya datar, sampai-sampai rasanya ingin gue paksa masuk ke dalam kulkas.

Mendengar penjelasannya itu, seketika gue putus asa. Menyalahkan diri sendiri karena sudah meninggalkan benda sepenting itu begitu saja. Tapi… buku itu besar, tidak mungkin hilang begitu saja. Sambil bercekak pinggang, gue memperhatikan sekeliling. Tiba-tiba mata gue tertuju ke satu benda yang tanpa sadar telah membuat gue tersenyum sendiri.

“Ah, akhirnya gue melihat sebuah harapan,” gumam gue, melihat CCTV yang menggantung di plafon coffee shop. “Mbak, boleh lihat itu nggak?” tanya gue bersemangat, sambil menunjuk ke satu-satunya harapan terakhir gue. “Ya, silahkan liat aja, Mas. Nggak ada yang larang,” jawabnya santai sambil berlalu pergi.

Hening.

MAKSUD LO APAAA? WOY!

Lihat selengkapnya