“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue.
Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue yang secara teratur melambat. Kedua mata ini pun enggan untuk mengedipkannya. Karena di dalam bola mata ini tampak terlihat sesosok wanita tengah berdiri di depan pintu rumah, melambaikan tangan dengan senyuman indah penuh kerinduan yang terlukis di wajahnya.
Dengan segera gue hempaskan barang bawaan gue, lalu berlari ke arahnya. Setiap langkah yang gue pijak, berputar seiring dengan segala kenangan yang tersimpan baik di hati ini. Dinginnya malam dan terangnya bulan menjadi saksi atas kerinduan yang tak tertahankan.
Dan… senyuman itu terlihat semakin nyata di saat gue berada di hadapannya. Tak sepatah kata pun terucap. Hanya dua tatapan saling bertemu. Kemudian naluri pun mengikuti. Sebuah pelukan hangat telah mendarat di tubuh gue. Pelukan dari orang yang selalu gue ucap dalam doa. Pelukan dari manusia yang telah memilih gue sebagai tujuan hidupnya.
Ya, beliau adalah ibu yang merawat gue. Gue pun tidak sanggup lagi menahan air mata ini. Air mata bahagia karena telah kembali ke rumah. Merasakan hangatnya suasana yang tidak bisa tergantikan di tempat lain.
“Maafin Andra ya, Ma. Selama ini Andra udah nggak peduli dengan kalian,” bisik gue, diiringi air mata jatuh membasahi pipi. “Iya, udah-udah. Yang penting kamu udah kembali sekarang. Jadi, Mama nggak perlu khawatir lagi. Udah, ah! Malu dilihat teman-temanmu tuh!” balas Ibu, mencoba menenangkan gue yang sedang terbawa suasana.
Lalu, tiba-tiba sebuah pelukan lain mendarat dari arah belakang gue. Tanpa menengok pun, gue bisa mengetahui kalau itu adalah adik gue, Diana. “Kak Andra!” serunya, tampak bahagia dengan sentuhan yang masih terasa canggung.
Beberapa saat kemudian, “Ehem, Dra!” terdengar suara Abay memanggil gue. “Oh, iya. Sori ya guys, sampe lupa ada kalian,” terkejut gue, baru menyadarinya.
“Iya, nggak apa-apa. Yaudah, kalo gitu kami langsung balik dulu aja ya, Dra. Mari Tante,” ucap Vero, pamit undur diri. Sementara gue merasa sungkan karena tidak menyuguhkan apa-apa ke mereka yang sudah susah payah menjemput gue. “Oke deh. Lain kali kalo ke sini lagi kita makan-makan ya,” celetuk gue, sesaat sebelum mereka pergi.