18 bulan kemudian
“Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak.
“Deandraaa! Orang tua manggil nggak di jawab-jawab!” teriak Ibu hingga menggema ke seluruh ruangan. “Awas ya, nggak Mama masakin lagi, lho!” lanjut beliau mengancam dengan kalimat pamungkasnya.
“Iya, Ma, bentar, lagi tanggung,” balas gue, bergegas. “Hah! Tanggung? Emang kamu lagi ngapain?” Nada Ibu terdengar heran. “Tanggung lagi beresin tempat tidur, Maaaaa...” jawab gue, buru-buru menghampiri, salto, lalu berpose di hadapannya.
“Taraaaa! Andra udah siap,” lanjut gue, mempersembahkan diri sendiri, lengkap dengan kedua tangan terbuka lebar. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gue yang absurd itu.
“Beberapa hari ini kamu telat bangun terus. Insomnia kamu kumat lagi ya?” tanya beliau, memperhatikan wajah gue dengan tatapan yang bisa menembus pertahanan siapa pun. Gue tersentak. “E… emang keliatan ya, Ma?” sahut gue pelan.
Ibu mendengus sambil melotot kecil. “Tadinya Mama pikir kamu cosplay jadi Kungfu Panda, kantong matamu hitam banget!” ledeknya, separuh bercanda, separuh khawatir. Gue cuma bisa menghela napas panjang.
“Apa ini ada hubungannya dengan permintaan Mama waktu itu? Kamu jadi kepikiran lagi?” Suaranya melunak. Permintaan yang dimaksud adalah hal yang sama yang sudah berkali-kali beliau ucapkan—hingga gue hafal tiap intonasinya. Hal yang tidak pernah benar-benar gue inginkan.
“Emangnya kamu nggak mau tahu asal-usul kamu, Nak?” lanjutnya, kali ini menatap gue sungguh-sungguh, seolah setiap kata diberi bobot. “Hmm… bukannya Andra nggak mau, Ma. Tapi… bagi Andra, selama ada kalian, itu udah cukup,” jawab gue dengan keyakinan yang dicampur sedikit lelah.
“Iya, Mama tau itu.” Beliau mengusap punggung gue perlahan. “Tapi sampai kapan kamu akan menyimpan rasa benci itu? Kamu harus bisa berdamai dengan masa lalu agar hidupmu tenang, Nak.”
Kami terdiam. Hening menggantung seperti asap yang enggan hilang. Sesekali pandangan kami bertemu, tapi langsung kabur lagi, seperti masing-masing takut membuka pintu emosi yang dalam.
“Pokoknya kamu harus ingat… kalau di sini sakit, jangan ditahan.” Jari Ibu menunjuk dada. “Iya, Ma…” jawab gue lirih. “Kamu masih ingat kan kata-kata Dokter Silvi, kan?”
Gue mengangguk pelan. “Iya, nggak perlu overthinking dan nggak boleh ngerasa sendirian.” Kalimat itu keluar otomatis, seperti mantra yang sudah terlalu sering gue ulang.
“Kalau kamu merasakan gejalanya, kamu harus langsung menemui beliau. Mama nggak mau kejadian lima tahun lalu terulang lagi.” Suara Ibu bergetar tipis. Masih ada trauma di sana, meski beliau berusaha menutupinya dengan wajah tegar.