Whroom! Whroom! “Helloow epribadeeeh!”
Beberapa saat kemudian, gue sampai di tempat kerja—Garageboy. Sebuah barbershop dengan jiwa bengkel klasik.
Begitu pintu dibuka, aroma pomade bercampur wangi oli sintetis menyapa. Lampu-lampu kuning temaram, plat nomor antik, mural mesin, dan dekorasi ala montir bikin tempat ini terasa seperti waktu yang membeku di masa akhir 70-an.

Ya, kebetulan selera gue dan pemiliknya sama persis. Target costumer kami adalah mereka yang peduli sama penampilan: anak muda, orang dewasa, bahkan bapack-bapack gagal move on yang masih merasa jiwanya lahir tahun 2000-an. Semua diterima, semua dipoles jadi versi terbaik diri mereka.
Hari ini gue masuk shift pagi, dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Setelah itu, giliran si pemilik yang jaga bersama anak magang—Anto, perantau dari desa.
Kerja di Garageboy itu fun, tidak ada kata lain. Setiap tamu dapat durasi satu jam—bukan hanya sekadar potong rambut, tapi untuk diperlakukan seperti manusia yang datang membawa cerita. Kapster tidak diburu waktu. Quality over quantity. Itu moto kami.
Mayoritas pelanggan datang via reservasi. Jadwal selalu penuh, terutama hari Sabtu. Marketing? Hanya mulut ke mulut. Tapi ternyata itu cukup—mungkin karena pemiliknya eksis abis, sangat kebalikan dari gue yang lebih cocok jadi NPC di dunia nyata.
Dalam seminggu, kami cuma libur hari Minggu. “Saatnya menghabiskan waktu bersama keluarga,” kata si pemilik—wajar, orangnya baru menikah, dan istrinya tengah mengandung. Jadi setiap Senin, ia datang dengan senyum lebih cerah dari biasanya.
Beberapa jam telah berlalu, dan tamu terakhir akhirnya pamit. Artinya, gue bisa mengistirahatkan tubuh ini walau hanya sebentar. Gue pun menjatuhkan diri di kursi hidrolik, memejamkan mata sambil membiarkan otot-otot yang sedari tadi tegang perlahan melunak.
Lagi enak-enaknya bengong, tiba-tiba—“Woy, Dra! Ngelamun jorok ya lo?” teriak Dimas, si pemilik garageboy yang hobi bikin orang kaget, sambil menepuk pundak gue dengan gulungan majalah yang dibawanya.
Refleks gue menyentak. “Ah, ngagetin aja lo! Jam berapa sih ni? Kok lo udah nongol?” tanya gue, heran. “Yee, mabok darat nih bocah. Liat dong jam berapa!” jawabnya sambil menunjuk jam dinding. Ternyata sudah hampir pukul 4 sore.
“Makanya jangan bengong mulu. Lagi mikirin apaan sih?” lanjutnya sambil merapikan rambut di depan kaca bak presenter gosip Sabtu pagi.
“Hmm… ini, Dims… sebenernya gue lagi ada masalah.” Gue mengehela napas panjang. “Hah! Masalah? Anak gadis mana yang lo buntingin?” ceplos Dimas otomatis. “Jiah! Kok anak gadis?!” protes gue. “Lhooo… jadi udah janda?” balasnya cepat.
“Cumiii! Bukan! Nggak ada hubungannya sama bunting-buntingan. Emangnya elo!” Gue memelotot. “Trus apaan dong?” Akhirnya ia serius.
“Belakangan ini… ada hal yang gue pikirin terus. Dan kayaknya itu bikin penyakit lama gue kumat,” ucap gue lirih. Raut wajah Dimas langsung berubah. “Serius, Dra?” tanyanya memastikan. Gue mengangguk. “Gejalanya sama persis kayak dulu,” lanjut gue.