Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #6

Eps. 5 Nama yang Tak Ingin Kuingat

Pagi ini, rumah kami penuh aroma roti tawar gosong—hasil eksperimen Ibu yang selalu bertekad menciptakan sarapan hotel berbintang, tapi selalu berakhir jadi bintang jatuh.

Di tengah kekacauan yang hangat itu, Diana tiba-tiba melintas seperti mobil Formula One tanpa permisi. Nguuueeeng! “Eh, mau ke mana? Santai dulu, masih ada waktu,” ucap gue sambil menahan lengannya.

Kamera imajiner mendadak nge-zoom wajah gue yang lagi bingung setengah ngantuk. “Ish, Kak, aku harus berangkat sekarang. Kalo nggak bisa telat,” jawab Diana, sambil mengikat tali sepatunya yang dari tadi kabur-kaburan itu.

“Iya, kamu ini apa-apaan sih! Adiknya mau berangkat kok ditahan-tahan,” komentar Ibu sambil geleng-geleng, rambutnya ikut bergoyang dramatis seperti iklan sampo—padahal beliau belum menyisir.

“Nggak bakal telat! Kak Andra anterin kamu. Udah siap nih, mode ‘abang ojol’ ON,” ucap gue, berpose sambil menjepit helm di pinggang. “Ah, nggak usah, Kak.” Nada suaranya menolak, tapi matanya melirik jam dengan kecemasan yang terlalu mencolok. Gue menghela napas. “Ni anak kenapa sih… dikasih enak kok malah kabur kayak dikejar cicilan.”

Begitu gue selesai merapikan pakaian—dengan kecepatan ala pesulap ganti kostum di balik tirai—gue langsung mengejar Diana. “Udah, buruan naik!” seru gue, menoleh kanan-kiri. Takut orang-orang sekitar berpikir gue begal, karena dempet-dempet anak gadis sendirian di trotoar.

“Ish! Kenapa sih Kak Andra maksa banget!” heran Diana. Wajahnya cemberut. “Ya, kamu juga… kenapa nggak mau banget!” balas gue, mencurigai sesuatu. Kamera spion motor menangkap wajah Diana yang salah tingkah.

Tapi akhirnya ia naik juga. Dengan posisi duduk yang… entah kenapa bertolak belakang menghadap semesta.

“Ya jangan hadap belakang juga lah, Din. Yang bener.” Diana langsung memutar badannya. Gue mengintip dari kaca spion. “KAKINYA JUGA!” Astagaaa…

Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kerja Diana yang terletak di lambung kota. Yang mana jaraknya hanya lima menit dari jantung kota yang tepat berada di atasnya. Dan saat ini, kami masih terjebak macet di usus besar. Sepertinya ada truk sampah terguling di ujung jalan sana. Baunya begitu menyengat—semriwing hingga ke ubun-ubun kepala.

Selama perjalanan, ada yang aneh. Diana gelisah. Matanya berkedip-kedip seperti lampu sein yang butuh diservis. “Kamu kenapa sih? Kok kayak orang panik gitu?” tanya gue. Spion memantulkan wajahnya yang berusaha tersenyum… tapi gagal total.

“Hah? Panik? Nggak kok.” Kebohongannya sudah level karyawan magang yang ditanya bos, “Siapa yang pake mesin fotokopi terakhir?”

“Din…” suara gue melembut. Kamera mendekat, musik ambience masuk. “Kakak tau kita nggak sedekat dulu. Tapi Kakak tetep mau jadi orang yang bisa kamu andalkan. Kalau ada apa-apa, cerita ya?”

Diana menelan ludah. “Iya, Kak…” Hanya dua kata, tapi terdengar seperti seseorang yang sedang menyembunyikan meteor di belakang punggungnya.

Untuk mencairkan suasana, gue mulai membuka topik, “Kata Mama, kamu kerja di perusahaan Korea ya? Gedung tinggi di Sudirman sana kan? Pantes Mama bangga banget, tiap hari kamu kerja sama Oppa-Oppa Korea.” Raut wajahnya langsung berubah. Kecemasannya justru meledak.

“Kamu kenapa sih?” heran gue, memperhatikan kaki kanannya yang terus menjahit di foot step motor, Naik-turun, berulang-ulang hingga si bandit bergetar.

 “Nggak apa-apa, Kak. Udah buruan, nanti Diana telat!” teriaknya, karena ramainya suasana jalan. “Bukannya apa-apa, Din. Masalahnya kakimu itu geter terus, Kakak jadi susah ganti gigi.” Diana langsung membeku.

“Lagian juga masih jam segini. Emang kamu yang ngepel lantai gedungnya!” canda gue, meledeknya. “CEPET!” Sebuah cubitan mendarat di pinggang. Kamera goyang dramatis ala telenovela. “Aduuuh! Sakit, Din!”

Setelah beberapa saat, “Kak, Diana turun di depan aja ya.” Refleks gue bertanya, “Lho, kenapa nggak tepat di depan gedung kantormu aja?” Ia menatap jalan lurus, wajahnya penuh rahasia.

Lihat selengkapnya