Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #7

Eps. 6 Joana dan segenggam rambutnya

“Hmm… Joana…”

Tujuh tahun lalu

Kata orang, masa-masa SMA itu adalah masa paling seru dalam hidup—tempat pertama kali kenal cinta, persahabatan bagai kedondong, dan pelajaran tentang tumbuh dewasa. Banyak orang dewasa yang sangat ingin mengulang masa SMA mereka, jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Namun tidak dengan gue. Karena justru masa itu adalah masa yang ingin gue hapus dari ingatan gue.

Sejak kecil hingga SMP, gue bukanlah anak yang populer di sekolah. Gue adalah seorang penyendiri yang tidak suka berada di keramaian. Apalagi bergaul bersama teman-teman. Namun, sikap gue yang seperti itu bukanlah kemauan gue pribadi. Gue hanya ingin melindungi diri gue dari kepalsuan yang ada di sekeliling gue. Dan saat SMA, perlahan-lahan benteng pertahanan diri gue itu mulai luntur, di mana saat itu gue juga mulai dekat dengan Abay.

Saat itu, Abay adalah satu-satunya cahaya yang mampu menembus gelap di hati gue—satu-satunya yang membuat gue percaya bahwa kesetiaan dan ketulusan bukan sekadar dongeng.

Bersamanya, gue belajar kembali membuka diri dan menatap dunia tanpa rasa takut. Perlahan-lahan langkah gue menemukan arah, lalu dinding yang dulu gue bangun… runtuh satu per satu.

Seperti pelangi yang muncul setelah badai, hidup gue pun mulai berwarna. Ada hangat yang merayap lembut di jiwa yang nyaris membeku ini. Kehangatan yang membuat gue mengerti, bahkan setelah kehancuran, masih ada tempat bagi cahaya untuk tumbuh.

Setelah terlahir kembali—menjadi orang baru, gue baru menyadari, jika fisik gue ini mempunyai daya yang mampu menarik perhatian gadis di sekitar gue. Sayangnya, alarm di dada gue ini masih siaga. Dan ia berbisik pelan agar hati yang pernah hancur ini tetap terjaga. “Sorry girls, nggak dulu.”

Sampai pada akhirnya, gue bertemu Joana untuk pertama kalinya. Tiba-tiba… semua sinyal dan alarm itu berhenti. Waktu seakan melambat. Suara di sekitar juga memudar. Yang tersisa hanya dirinya—berdiri di antara cahaya pagi yang hangat, dengan rambutnya yang tersapu angin begitu indah.

Sejenak, gue perhatikan dirinya dengan seksama. Matanya sejernih bola kristal. Hidungnya merona; sepertinya ia sedang flu. Bibirnya mungil bagaikan buah persik. Lalu betisnya… iya, betis. Sudutnya begitu sempurna bagaikan tongkat baseball.

Dalam sekejap, jantung gue berdetak kencang tak karuan, menghantarkan gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Saat itu juga gue tersadar, jika ada sesuatu di dalam diri gue yang bangkit—sesuatu yang bahkan tidak bisa gue kendalikan.

Lihat selengkapnya