“APAKAH INI YANG NAMANYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!” seru gue, tiba-tiba membekukan suasana kantin sekolah. Dan semua tatapan pun tertuju ke arah gue.
Hah! Kantin? Gue membeku begitu menyadarinya. Dan lebih terkejut lagi gue melihat Ibu kantin menatap gue dengan ekspresi herannya.
“Cinta pada pandangan pertama?! Dek, Ibu janda anak 2 lho,” balasnya, membuat gue kehabisan kata-kata. “Eh, ma… maaf, Bu. Pikiran saya lagi ke mana-mana,” ucap gue sekenanya. “Lho, ya dikumpulin, biar nggak hilang,” balasnya, entah serius atau bercanda.
Beberapa saat kemudian, “Nih, teh panas lo,” ucap gue, menyodorkan pesanan Joana yang sedang terbaring di ruang UKS. Gara-gara rambutnya tercabut paksa oleh gue, badannya mendadak meriang dan sepertinya akan menjadi demam.
“Maafin gue ya, gue nggak sengaja tadi. Gue itu kagetan,” ucap gue, berusaha untuk meredam amarahnya yang masih membara. Dengan mata memelotot, Joana menatap gue. “Liat aja, suatu saat pasti akan gue bales!”
Sejak pertemuan pertama gue dengan Joana waktu itu, hari-hari yang gue lalui perlahan mulai terasa berbeda. Ada semacam angin segar yang menyusup ke dalam rutinitas gue—sejuk, lembut, namun cukup kuat untuk menggerakkan hati yang selama ini beku.
Bahkan, hal-hal sederhana seperti bangun pagi atau berangkat ke sekolah terasa punya makna baru. Dan lucunya, gue justru mulai datang lebih siang dari biasanya—hanya demi satu alasan, yaitu supaya gue bisa dihukum bersama Joana lagi.
Gila! Ya, sepertinya gue benar-benar sudah jadi budak cinta. Dan anehnya, gue merasa bahagia. Karena dari rencana konyol itu, gue justru mendapatkan hal yang gue inginkan, yaitu waktu lebih lama bersamanya.
Lalu tanpa gue sadari, kedekatan itu tumbuh perlahan. Seperti bunga yang mekar diam-diam di antara jam pelajaran, juga senyum-senyum kecil di bawah sinar matahari yang mengiringi hari.
Hingga suatu saat, gue pun mengakui—Joana bukan lagi sekadar teman di sekolah. Dia mulai menjadi bagian dari alasan gue untuk tersenyum setiap hari.