Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #9

Eps. 8 Setelah Ciuman Itu

Suatu saat, gue dan Joana kembali harus menerima hukuman karena datang terlambat. Sepertinya ini sudah menjadi ritual bertemu kami yang tanpa Joana ketahui sudah gue rencanakan.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda darinya. Joana tampak murung. Seri di wajahnya juga menghilang.

Di saat sedang membersihkan ruangan, tanpa sengaja lengan gue menyenggol lengannya. Dan seketika Joana meringis pelan. Refleks, gue menoleh karena gue tahu senggolan itu harusnya tidak berdampak apa-apa.

“Jo, tangan lo kenapa?” Gue mendekat. “Nggak apa-apa kok!” jawabnya cepat, langsung menyembunyikan tangannya di balik badan. Ya kalo nggak ada apa-apa kenapa lo sembunyiin? Please, Jo, jangan bikin gue khawatir.”

Tanpa pikir panjang, gue raih lagi tangannya. Dan waktu itu juga, napas gue langsung tercekat. Terlihat ada lebam besar di sana—biru keunguan, mencolok di kulitnya yang pucat.

“Gila, Jo! Tangan lo kenapa?! Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo?!” suara gue meninggi tanpa sadar, campur aduk antara marah dan panik. “Udah, Dean. Nggak usah heboh. Ini cuma jatuh di tangga, kok,” ucapnya, dengan suaranya yang bergetar. Ia berbohong. Sorot matanya tidak bisa menutupi rasa takut yang ia simpan.

“Jo, gue nggak bego. Gue tahu banget bedanya luka jatuh sama luka karena dipukul,” ucap gue, mengingat apa yang terjadi pada diri gue di masa lalu. “Yaudah sih! Kenapa lo peduli sama gue?!” heran Joana. Suaranya pecah, matanya mulai berkaca-kaca.

Tanpa sadar, gue pun berteriak, “Gue peduli karena gue sayang sama lo, Jo!” Ia terkejut. Tiba-tiba udara di antara kami terasa berat. Tatapan demi tatapan terbuang begitu saja. 

Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Joana kembali bertanya. “Kenapa? Kenapa lo bisa sayang sama gue?” Pertanyaan itu menghantam gue dalam diam. Lidah gue kelu, seolah ada beban yang menahan semua kata di tenggorokan.

Gue sadar, jika gue bukan siapa-siapa bagi Joana. Hanya seorang teman yang kebetulan ada di sisinya saat dunia terasa terlalu berat untuk ia tanggung sendiri. Gue menunduk, menatap lantai seolah di sana ada jawaban yang bisa menyelamatkan gue dari pertanyaannya itu.

“Jawab, Dean! Kenapa lo bisa sayang sama gue? Sedangkan yang seharusnya peduli sama gue aja…” Kalimatnya terhenti, tercekik oleh isak tangisnya sendiri. Air matanya jatuh, lembut tapi memecah keheningan di antara kami. Karena gue hanya diam, Joana pun beranjak menjauh dari gue. Namun, tangan gue refleks menarik lengannya, dan tanpa pikir panjang...

…gue memeluknya.

Gue memeluknya dengan sangat erat. Entah, apa yang telah gue lakukan. Tapi, tubuh ini bergerak dengan sendirinya tanpa menunggu perintah dari otak. Dan anehnya, Joana menyambutnya dengan hangat. Ia membalas pelukan gue dengan erat. Ada sesuatu yang begitu nyaman dan akrab gue rasakan—seolah gue sedang memeluk ibu gue sendiri.

Tiba-tiba, hati gue berbisik pelan: gue sungguh cinta sama Joana. Namun, bisikan itu cuma berhenti di dada gue. Tidak sanggup untuk gue utarakan, seakan tenggorokan gue tersumbat oleh rasa gugup dan harapan yang terlalu besar.

Lihat selengkapnya