Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #10

Eps. 9 Di Balik Seragam Itu

Barbershop baru saja gue buka. Lampu-lampu neon baru menyala, memantulkan cahaya pucat ke kaca besar yang penuh sidik jari pomade. Gue lagi duduk di kursi hidrolik, menikmati sunyinya toko sebelum dunia ribut seperti biasa.

Lalu—“WOY, DRA!” Suara itu pecah seperti petasan yang dilempar ke ruangan tertutup. Jantung gue hampir keluar lewat jakun.

“KAMPRET—DIMAS! Bisa nggak sih lo masuk ke ruangan dengan normal? Sekali aja!” seru gue sambil menepuk dada sendiri, memastikan jantung ini masih berada di tempatnya. Dimas berdiri di ambang pintu dengan tatapan bangga, seolah mengejutkan gue adalah sebuah prestasi.

“Hehehe, sori. Abis seru banget ngerjain lo. KOCAG.”

Gue manyun. “Tumben lo pagi-pagi udah nongol. Terus ntar sore siapa yang jaga?” Dimas mengangkat jempolnya. “Tenang, ada Anto. Sekarang dia udah bisa dilepas,” jawabnya sambil melakukan gerakan pemanasan aneh. Jongkok—berdiri—jongkok—berdiri. Seperti atlet yang salah masuk cabang olahraga.

“Nanti abis makan siang ada tamu yang maunya dicukur sama gue doang,” ucapnya kini sambil bergaya di depan kaca, memeriksa seberapa cool dirinya pagi ini.

“Ah, paling juga om-om genit,” celetuk gue. “Heh! Bini gue lagi bunting nih, ati-ati ngomong lo,” sewot Dimas, tiba-tiba panik. Sementara gue terus tertawa membayangkan apa yang terjadi di masa lalu bersamanya.

Hubungan gue sama Dimas memang begini: akrab, absurd, dan sering kali membuat orang salah paham. Gue kenal dengannya sewaktu gue merantau di Bali. Ternyata, kampung halaman kami sama—Jakarta. Hobi sama, selera sama, frekuensi bercanda juga sama. Jadinya nyambung terus, sampai-sampai orang mengira kami pacaran.

Iya, serius.

Untuk menepis rumor itu, kami sepakat membuat kompetisi cari pacar. Sebuah keputusan yang—tanpa sengaja—merubah hidup Dimas selamanya. Di mana akhirnya ia bertemu dengan Mariana, wanita yang sekarang menjadi pusat orbitnya.

Dan yang lebih absurd lagi, setelah gue kembali ke Jakarta dan sekolah kapster, Dimas… ikut pulang. Ikut sekolah juga. Ikut jalur hidup gue selayaknya stalker profesional yang terlalu setia.

Ia sering bilang hidupnya hampa tanpa gue. Awalnya gue berpikir ia hanya orang gila yang terobsesi. Namun lama-lama gue sadar: ia cuma kosong, dan gue jadi pengisi waktunya.

Ya sudahlah. Meski menyebalkan, Dimas adalah teman yang setia kawan.

“Gimana, lo udah periksa ke dokter?” tanya Dimas, nada seriusnya turun tiba-tiba. Atmosfer langsung berbeda; seperti film komedi yang berubah tone jadi drama keluarga dalam dua detik.

“Hmm… belom,” jawab gue pelan. “Lo nunggu apaan lagi, Dra?” Tampak Dimas menahan emosi, tapi ekspresi “gregetan” nya jelas seperti ingin melempar kursi.

“Ya… masih gue pikirin.” Dimas mendekat, bersandar di meja barber. “Penyakit kok dipikirin. Overthinking mulu lo,” ucapnya semakin menjadi. “Ya gimana dong. Emang gue orangnya begini.” Dimas menarik napas panjang. “Makanya periksa. Kalo dengan cerita ke orang terdekat lo aja nggak ada pengaruhnya, berarti lo butuh seorang profesional.

Lihat selengkapnya