Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #11

Eps. 10 Wanita Berambut Magenta

Weekend telah tiba—hari ketika gue bebas dari rutinitas monoton yang belakangan terasa seperti benang kusut yang membelit leher. Tapi sayangnya tubuh ini tetap terasa berat, seperti ada beban pasir di tiap sendi.

Insomnia yang menghantui beberapa hari terakhir masih betah menetap. Mata gue memang sempat terpejam semalam... tapi pikiran gue lari maraton tanpa garis finish.

“Ah, masa gue harus pake obat-obatan itu lagi?” Keluhan itu muncul begitu saja, menyelinap di sela pikiran tentang masa lalu yang rasanya masih meninggalkan bekas luka di dada.

Di hari libur ini, gue berniat menemui Abay—mau bertanya soal kemungkinan lowongan kerja buat Diana. Adik gue itu pintar, punya latar belakang perhotelan, tapi hidup membawanya jauh dari tempat yang seharusnya. Gue cuma mau membantunya pulang ke jalur yang ia kuasai.

Sesampainya di depan pintu kos Abay, yang gue temukan cuma keheningan. Kosong. Lampu kamar mati. Saat gue mengetuk pintunya—tok-tok—tak ada jawaban. Gue ragu sebentar, lalu mengeluarkan ponsel. Tuut…tuut…—telepon tersambung, suara Abay muncul dengan latar suara berisik dari tempat umum. “Lo di mana? Kok nggak ada di kos?”

“Lah, emang gue wajib stay di kos tiap hari Minggu?” Kalimatnya santai, tapi membuat gue jengkel setengah mati. Setahu gue, tiap weekend ia cuma jadi pajangan hidup di kamarnya.

“Ya… biasanya Minggu kan lo nggak ke mana-mana. Emang masih lama?” Gue mulai penasaran. “Gue lagi sama cewek,” jawabnya santai. Gue langsung sadar, “Oh, yaudah, gue nggak ganggu deh—”

“Temen kampus dulu,” sambungnya, seolah-olah itu jawaban yang bisa membuat gue tenang. “Lo ke sini aja,” tambahnya lagi sempat membuat gue ragu. Namun setelah berpikir sejenak akhirnya gue menerima ajakannya itu.

Lalu sebelum menutup telepon, dengan entengnya—ENTENGNYA—ia meminta tolong ke gue untuk melakukan sesuatu yang otomatis membuat gue mendidih seketika.

Hening sebentar.

Gue tarik napas, lalu ambil kuda-kuda—bersiap untuk melakukan serangan balasan. Argh!—Dasar kadal rawa bulu domba!” Gue tendang keset Welcome di depan pintu kosnya sampai melayang ke rumah sebelah. “Yes! Home run,” teriak gue, sedikit bangga padahal lagi dongkol.

Bagaimana tidak? Abay minta tolong ke gue untuk jemur cucian di ember yang ia lupa jemur. Dan cucian itu… isinya kolor-kolor berlubang yang seharusnya sudah masuk museum fosil tekstil. Haaargh!

Setelah drama cucian usai, gue langsung ke lokasi tempat Abay berada. Dulu tempat itu sering jadi markas nongkrong kami—sebuah retail market di Fatmawati, lengkap dengan meja dan kursi di bawah payung besar, yang melindungi dari teriknya matahari dan hujan. Tapi begitu gue sampai… ternyata zonk.

“Mana sih ni anak?” Gue berputar-putar, mencari tanda-tanda keberadaannya. Tetap nihil. Akhirnya gue video call. Tiba-tiba muncul muka Abay yang sepertinya sedang menahan meteor jatuh dari langit.

“Lo lagi ngeden ya?” tanya gue curiga. “Iye. Sakit perut gue. Lo temuin temen gue dulu aja.” Klik. Telepon ditutup tanpa aba-aba. “Bajigur! Disamperin malah setoran die.” Gue ngedumel sambil memutar kepala, mencari wanita yang dimaksud. Dan ternyata… ada dua.

Wanita pertama: rambut magenta bergradasi gelap ke terang, lensa kontak warna abu, crop tee hitam menerawang, jaket bulu landak, hot pants jeans, sneakers. Aura hypebeast-nya kuat sekali hingga mencolok mata.

Wanita kedua: kaos putih oversize, rok rempel selutut, sepatu futsal pink (??), kaos kaki setinggi betis, gelang batu alam segambreng, totebag lembut-lembut aesthetic. Auranya… campur aduk. Antara anak seni atau anak hilang.

“Firasat gue sih yang kedua,” pikir gue asal. Gue hampiri wanita itu. “Halo, maaf—” Wanita itu memotong, “Saya nggak butuh asuransi, Mas!” Refleks gue mundur selangkah. “Eh, bukan—” Ia langsung melirik tajam. “Credit card juga nggak! Apalagi jajanan-jajanan UMKM dari dalam tas. Pokoknya saya nggak butuh apa pun!” Ia mengusir gue pakai gesture tangan: hush hush.

Seketika gue bengong. “Yeee… WONG EDYAN!” seru gue sambil mundur teratur. “Pake tas punggung aja gue nggak!” lanjut gue bergumam sendiri.

Tiba-tiba dari sudut mata, ada tangan melambai. Si cewek magenta. “Sini,” katanya sambil tersenyum hangat. Ah, ini baru manusiawi.

“Hai, lo temennya Abay ya? Dia masih di toilet,” ucapnya. “I… iya,” jawab gue, mendadak grogi. “Kenalin, nama gue Sonya.” Ia menyodorkan tangan. Gue terkejut. Sudah lama rasanya tidak berkenalan dengan seorang wanita.

“Oh, i… iya, gue Deandra.” Ia juga terkejut. Sangat terasa perubahan tenaga pada cengkraman tangannya. “Ke—kenapa? Ada yang aneh?” tanya gue memastikan. “Oh, nggak kok.” Ia terus tersenyum. Gue jadi kikuk dan merasa tidak nyaman.

“Oh, ya! Kata Abay lo dari Bali ya?” tanyanya, lagi-lagi mengejutkan gue. “Oh, Abay udah cerita ya. Hmm, gue bukan dari Bali sih. Lebih tepatnya, gue sempat merantau lama di sana.”

Lihat selengkapnya