Karena sudah janji, gue menyempatkan diri mampir ke butik milik Vero. Wangi parfum interior, suara hanger besi beradu, dan lampu-lampu warm white yang memberi nuansa elegan—semua itu sedikit membuat kepala gue lebih ringan, walaupun tubuh rasanya seperti habis digiling semalaman.
Kami membahas progres kerjaan. Untungnya, semuanya berjalan mulus. Vero tampak puas, bahkan senyumnya lebih cerah dari biasanya. “Berarti aman ya, Dra? Sesuai waktu yang kita rencanain?” Gue mengangguk, “yoi, gue udah submit ke Abay. Abis itu dia yang urus ke percetakan,” mencoba terdengar energik.
Tapi… dari cara Vero melirik gue, gue sadar bahwa gue tidak bisa menyembunyikannya. “Lo nggak apa-apa, Dra? Muka lo pucet banget,” tanyanya tampak khawatir. “Hoahm, agak ngantuk aja sih,” jawab gue, sambil menahan beratnya mata yang rasanya sampai menusuk tulang.
“Pasti lo susah tidur lagi,” tebak Vero menatap curiga. “Tuh liat, kantong mata lo item banget. Jangan-jangan… gara-gara ngerjain ini lagi?” lanjutnya merasa bersalah. “Nggak lah…” gue menahan napas sesaat. “Lagi banyak pikiran aja,” ucap gue, diikuti dengan senyuman yang lebih terlihat seperti sedang menahan sakit.
Begitu gue berdiri, lutut gue agak goyah. Vero langsung sigap menopang gue. “Tuh, kan! Lo sempoyongan!” suaranya naik setengah oktaf. “Udah—rebahan dulu di sofa kantor gue. Daripada lo nanti kenapa-kenapa di jalan!” Nada omelannya… anehnya membuat gue hangat. Mirip Ibu gue kalau lagi kesal tapi sayang.
Gue ini bukan tipe orang yang mudah untuk bercerita. Tapi entah kenapa, teman-teman terdekat gue selalu bisa merasakan kalau ada yang salah dari diri gue. Apakah mungkin dari ekspresi wajah gue yang terlihat jelas? Atau karena tawa gue yang tidak sehangat biasanya?
Sebenarnya, gue punya masalah psikis yang sudah lama gue pendam. Semuanya bermula dari depresi yang dulu tidak gue sadari kehadirannya. Awalnya cuma sulit tidur, kadang cemas tanpa alasan. Lalu, mulai muncul rasa takut yang tidak bisa gue jelaskan. Lama-lama semuanya menyatu jadi satu gumpalan sesak yang gue bawa ke mana-mana. Dan ternyata, akar dari semuanya… adalah trauma.
Hingga kini, terkadang gue masih merasa dihantui oleh rasa ketakutan itu. Apalagi jika terjadi sesuatu yang dapat memicu luka lama di masa lalu. Rasanya dunia langsung berubah jadi tempat yang mencekik. Gue bisa tiba-tiba diam, cemas, dan merasa ingin hilang dari semua orang. Seolah kalau gue sendirian, semuanya akan lebih aman. Namun gue sadar, jika bersembunyi bukanlah solusi.
Gue pernah ke psikiater. Gue sering minum obat penenang. Dan perlahan-lahan, keadaan gue memang membaik. Tidur gue kembali normal. Emosi gue stabil. Gue kira gue sudah melewati masa paling gelap dari hidup gue. Tapi akhir-akhir ini… gejala itu muncul lagi. Pelan. Diam. Tapi jelas. Seperti ombak kecil yang pelan-pelan berubah jadi badai. Firasat gue mengatakan jika gue harus mengantisipasi.
Mungkin gue memang harus menemui dokter Silvi lagi. Gue tidak ingin menunggu hingga semuanya meledak lagi. Gue sadar jika gue diam saja, luka ini tidak akan sembuh dengan sendirinya. Ia hanya akan tumbuh diam-diam, sampai akhirnya menelan gue habis—sekali lagi.
Enam tahun yang lalu
“Deandra! Buka dong pintunya, Nak. Sampai kapan kamu mau begini terus?” Terdengar suara sedih Ibu dari balik pintu yang terkunci. Namun di balik pintu itu, tersembunyi hati yang jauh lebih rapuh.
Sudah berhari-hari gue mengurung diri di dalam kamar ini, bersama kecemasan yang tak henti menggulung bagai tsunami. Terdapat awan hitam di atas kepala gue—bergemuruh, berat, dan terus mengikuti. Gruduk! Gruduk! Suaranya mencekam, seperti tanda bahwa ketakutan itu sedang tumbuh di dalam diri.
Gue tahu, semua itu hanya buah dari pikiran gue. Namun, rasa nyatanya seperti luka yang tak berhenti berdarah. Di tengah kekacauan itu, gue mulai menyadari… ada dua suara lain yang hidup di kepala ini. Dua penyusup yang tak pernah sepakat, selalu berdebat. Gaduh. Mereka gaduh sekali.