“Jadi maksud lo, dokter yang biasa nanganin lo itu pindah ke kota lain, gitu?” tanya Dimas, yang baru saja mendengar keluh kesah gue. “Yaudah sih, tinggal cari yang lain aja, kan masih banyak,” lanjutnya menatap heran.
“Ya, lo kan tau gue, Dims. Paling males kalo ketemu orang baru.” Tangan gue menyilang di depan dada, membayangkan sesuatu yang gue benci.
Dimas terdiam. Ekspresinya tampak ragu. “Hmm, Dra,” celetuknya memecah sunyi. “Sebenernya gue itu kenal seseorang yang mungkin aja bisa ngebantu lo. Tapi dia itu psikolog. Gue nggak tau nih, apakah metode terapinya akan sama dengan yang biasa lo jalanin,” ucapnya, menarik perhatian gue.
“Psikolog?” Gue berpikir sejenak. Berusaha memahami apa perbedaannya. “Iya. Dan kalo dibilang ahli, kenalan gue ini super banget. Bahkan setau gue, dia itu sering jadi pembicara di seminar-seminar karena pengikut sosmednya udah mencapai ratusan ribu orang,” tambahnya, tampak yakin.
“Oh, ya? Terkenal dong berarti,” dengan serius gue mendengarkan. “Iya. Dia juga udah punya kantor sendiri. Ya, siapa tau ternyata lo cocok,” lanjutnya, sambil memberikan sebuah kartu nama.
Perlahan-lahan gue baca nama yang tertera pada kartu nama itu. “Arindra Cahaya Putri.”
“Oh, ya, btw gimana kabar cewek yang waktu ini, siapa namanya, So—So?” Tampak Dimas berusaha mengingat. “Sonya,” sambung gue. “Ah, iya, Sonya. Gimana, nggak lanjut kalian?” Ia tersenyum. Tatapannya mesum. “Lanjut apaan? Nggaklah!” seru gue, dengan nada setinggi penyanyi opera terjepit pintu.
“Yah, sayang banget. Padahal kayaknya dia ada crush ke lo, Dra,” ucapnya sok tahu. “Hmm, mulai deh jadi dukun dadakan lo,” sangkal gue. “Kalo sampe iya gimana?” Dimas ngotot. “Ya bodo amat. Ngapain gue pikirin. Yang punya perasaan dia, bukan gue,” jawab gue tidak peduli. Bukan bermaksud jahat. Gue hanya menjaga prinsip yang sudah gue pegang teguh selama ini.
“Ya, mungkin sekarang lo bisa ngomong begini, Dra. Tapi, kalo suatu saat nanti lo bener-bener suka sama dia, masa lo nggak mau ngelanggar prinsip lo, dan mengabaikannya begitu saja kawan?” ucapnya, dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. Sementara gue membeku, membayangkan seseorang yang masih gue tunggu.
***
Baru saja gue mendapat kabar dari Sonya bahwa lowongan kerja yang pernah ia sebutkan sebelumnya ternyata masih terbuka. Tapi yang membuat gue langsung waspada adalah kalimat lanjutannya—katanya, lebih baik ia sendiri yang menyerahkan surat lamaran kerja adik gue kepada saudaranya. Entah kenapa, ada sesuatu dari caranya bicara yang membuat gue enggan harus ke sana.
Namun demi Diana, tanpa banyak pikir gue langsung menyalakan si Bandit, dan melaju menuju studio workshop Sonya—tempat di mana semua lukisannya lahir.
Begitu gue tiba, gue langsung melihatnya. Sonya, dengan rambut yang diikat asal-asalan dan kaus lusuh penuh noda cat, sedang memindahkan barang dari satu ruangan ke ruangan lain. Studio itu… kacau. Tapi kekacauan yang terasa seperti bagian dari proses kreatifnya.
“Hai, Dean,” sapanya sambil menyeka keringat. Gue cuma bisa membalas dengan senyuman kecil. Perhatian gue terseret pada dinding-dinding yang penuh dengan lukisannya—warna-warna yang seperti bicara lebih lantang daripada suara manusia.