Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya gue menerima kabar baik dari Sonya terkait dengan lowongan pekerjaan yang ia informasikan itu.
“Eh, Dek. Kamu tau nggak, kamu dapet panggilan wawancara di Lincon Hill, besok lusa!” dengan antusias gue langsung menyampaikan kabar ini ke Diana. Disaksikan juga oleh Ibu yang tak henti-hentinya mengucap syukur.
“Lincon Hill, Kak? LH Group? Serius?” terperanga Diana tidak percaya. “Ya serius dong, masa Kakak bercanda sih,” ucap gue meyakinkannya.
“Trus, kamu tau nggak…” dengan kencang gue menggenggam kedua tangannya “Ternyata posisi yang dibutuhkan itu adalah front office,” lanjut gue bersemangat. Diana tampak gembira sekali. Wajahnya berseri-seri. Matanya berkaca-kaca, terharu.
“Semangat ya, Nak. Mama doakan supaya kamu lolos audisinya,” celetuk Ibu, tiba-tiba membuat kami terdiam.
“Kok audisi sih, Ma?” tanya gue heran. “Wawancara, Ma. Interview,” sahut Diana, diikuti gelengan kepala. “Yah, kan sama juga di tanya-tanya,” jawab Ibu dengan polosnya.
Beberapa jam kemudian
“Hellow brow, pa kabs (apa kabar)? Eh, btw low udah hubungi orang yang di kartu nams, yang waktu ini gue kasih itu loms?” tanya Dimas, begitu melihat gue yang baru datang, dengan bahasanya yang sok asik itu.
“Kenape bibir lo? Dipatok cobra?” ledek gue, menghampirinya. “Salah, ege. Kesetrum raket nyamuk, puas lo!” balasnya, justru menambahkan.
“Jadi gimana? Soal kartu nama?” tanyanya lagi, memastikan. “Oh, masalah itu. Hmm, gue belom sempet hubungin dia, sih,” jawab gue apa adanya.
“Nunggu apaan lagi? Dipatok cobra!” ucap Dimas, meng-callback ledekan gue. Tampak ekspresi wajahnya mengejek dan terlihat menyebalkan.
“Ya, gue belum ketemu aja waktunya. Apalagi gue lagi sibuk ngerjain project dari Vero,” jelas gue, mengingat rutinitas akhir-akhir ini yang cukup sibuk.