Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #16

Eps. 15 Akar dari Segala Ketakutan

Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi

“Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.

“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.

“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.

“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”

Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.

“Oke… kalo gitu panggil aku Deandra aja,” ucap gue mengikutinya. Dengan harapan suasana yang tercipta jauh lebih nyaman dan akrab. Aya mengangguk, lalu mengubah nada suaranya jadi lebih cair.

“Jadi, ini pertama kalinya kamu ke psikolog?” tanyanya kemudian. “I… iya. Tapi dulu… dulu sekali aku pernah menjalani terapi sama psikiater,” jawab gue sedikit terdistraksi. Entah kenapa, jawaban gue justru membuat Aya terkekeh.

“Kenapa, Ay? Ada yang lucu?” Gue memicing curiga. “Maaf, bukan apa-apa. Aksen Bali-mu itu masih kental banget. Aku belum terbiasa aja,” jawabnya berusaha kembali serius. Gue langsung terdiam. “Lho… dari mana kamu tahu aku pernah tinggal di Bali?”

Aya terkejut, seperti baru sadar dari apa yang baru saja diucapkannya. “Oh—itu tertulis di data informasi kamu. Di formulir pendaftaran.” Formulir? Dalam hati gue bingung karena merasa tidak pernah menulis hal detail seperti itu.

Belum sempat gue tanya, Aya langsung beralih ke mode profesional. “Di sini tertulis kamu sudah pernah menjalani beberapa sesi psikoterapi.” Tangannya rapi mencatat, satu lagi menyalakan recorder.

“Apa ada kendala yang kamu rasakan akhir-akhir ini?” Gue menarik napas panjang. “Akhir-akhir ini gejala-gejala kecemasanku muncul lagi. Sama kayak dulu. Dan itu ganggu banget.”

“Muncul lagi?” tanyanya, dengan nada pengamatan yang tajam tapi tetap lembut. “Apa ada sesuatu yang memicunya?” Gue mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi… belakangan ini emang ada yang mengganggu pikiranku.” Sekelibat, gue memikirkan segala masalah yang gue hadapi.

Lihat selengkapnya