Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #17

Eps. 16 Ketika Dunia Menolakku

Kelahiran

Ayah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.

Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.

Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.

Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.

Pertemuan mereka bukan karena cinta, melainkan karena kepentingan. Sebuah perjodohan untuk mempererat hubungan bisnis antara dua keluarga yang berbeda dunia. Di mana ayah gue melihatnya sebagai kesempatan untuk memperluas pengaruh, sementara keluarga ibu gue menganggapnya sebagai jalan takdir yang telah ditentukan. Hingga akhirnya di tahun 1996, mereka menikah.

Beberapa bulan setelah menikah, guru spiritual ibu gue berkata, “Lahirkan seorang anak laki-laki secepatnya. Ia akan membawa keberkahan bagi banyak orang.” Ramalan itu seperti cahaya bagi ibu gue. Sementara bagi ayah, itu seperti sebuah janji kemenangan baru. Mereka percaya, dan mereka bekerja sama. Bukan atas dasar kasih, tapi ambisi. Dan setahun kemudian, gue dikandung.

Kehamilan ibu gue disambut dengan penuh harapan. Rumah direnovasi, kamar bayi disiapkan, pengasuh pun dipekerjakan. Segalanya tampak ideal, nyaris sempurna. Hingga dunia tanpa disadari—tiba-tiba berubah.

Tahun 1998. Krisis moneter[6] mengguncang asia. Nilai tukar rupiah jatuh, harga-harga melambung, dan bisnis-bisnis besar berjatuhan satu per satu. Termasuk milik ayah gue. Saat semua orang panik dan kehilangan arah, gue lahir. Bayi mungil yang diharapkan membawa keberkahan, justru datang di tengah kehancuran.

6. Krisis moneter adalah kondisi terpuruknya perekonomian suatu negara yang menyebabkan harga-harga aset mengalami penurunan tajam.

“Pembawa berkah apanya?! Justru hancur semua!” teriak ayah kepada ibu. “Tapi… biasanya perkataan guru selalu benar,” balas ibu gemetar.

“Lihat sekelilingmu! Kantorku disegel bank, rumah kita disita, mobil ditarik, dan utang menumpuk! Aku tidak tahu harus menatap wajah siapa lagi setelah ini!” Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara detik jam di dinding yang terdengar seperti cambuk.

“Aku akan pergi, menyelamatkan apa pun yang masih bisa diselamatkan. Kamu pulang saja ke rumah orang tuamu,” ucap ayah gue mengejutkan ibu. “Bagaimana dengan Deandra?” tanya ibu lirih, menatap gue yang sedang digendong oleh pengasuh. “Jauhkan aku dari anak terkutuk itu!” jawabnya berlalu pergi, tidak peduli.

Beberapa jam berlalu. Tampak ibu sedang duduk di lantai kamar dengan mata bengkak dan rambut berantakan. “Mbak, tolong persiapkan Deandra ya. Pastikan pakaiannya cukup hangat,” perintahnya kemudian, sambil menatap kosong ke arah jendela. Lalu ia menulis sepucuk surat—pendek, tapi berat.

Lihat selengkapnya