“Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.
Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.
“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.
“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.
“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pelukan. “Langsung di cobain dong, Din,” celetuk Vero, memecah keharuan.
Dengan Segera, Diana membuka seluruh plastik pembungkus yang masih menempel di kendaraan barunya itu. Setelahnya, Ia segera menyalakan mesin dan mencoba mengendarainya dengan gembira.
“Din, mingkem. Senyum melulu, keselek nyamuk ntar,” ledek gue, melihat mulutnya yang terbuka lebar kegirangan. Tidak berselang lama, “Mama masuk dulu ya, mau siapin makan malam,” pamit Ibu, meninggalkan gue dan Vero yang sedang mengamati Diana di kejauhan.
“Makasih ya, Ro. Semua ini nggak akan terjadi kalo bukan karena lo,” ucap gue, berterima kasih kepadanya yang telah memajukan pembayaran project event, yang bahkan belum terjadi itu.