Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #19

Eps. 18 Hari yang Ribut Bersamanya

Event Vero

Hari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.

Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.

“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.

“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.

Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri, gue mulai bergerilya di antara lautan manusia. Jalan pelan-pelan dengan mode kuda pacu: pandangan lurus ke depan, fokus, jangan sampai salah eye contact. Booth-booth berjejer rapi, tapi gue cuma berani melirik dari kejauhan, mirip maling sandal insecure.

Tiba-tiba ada suara wanita memanggil nama gue. Dan itu bukan suara Vero. Gue refleks menengok kanan-kiri seperti CCTV berputar.

Begitu menemukan sumber suara itu… gue langsung menelan ludah. “Dean! Lo dateng juga ke acara ini?” seru Sonya, tiba-tiba menghampiri gue.

“Ha… hai, Nya. E—ell… lo kok ada di sini?” Gue gagap parah. Suara gue seperti anak SD ketahuan pacaran.

“Ish, setiap ketemu lo pasti nanya gitu! Emangnya kenapa sih? Nggak boleh?” balasnya, wajahnya mengerucut.

“Bukan gitu maksud gue…” Gue garuk-garuk kepala, refleks klasik manusia kikuk.

“Terus lo kenapa bisa ada di sini juga?” tanya Sonya gantian curiga. “Oh, itu… kebetulan gue salah satu vendor event ini.” Mata Sonya membesar. “Masa? Vendor apaan?” Ia jelas terkejut.

“Hmm… semua desain cetak dan digital di acara ini, gue sama Abay yang ngerjain.” Nada gue sok santai, padahal dalam hati gue lagi breakdance sambil diiringi lagu “New Dance” milik XG.

“Wow! Ini semua kalian yang bikin? Keren!” Sonya melihat sekeliling. Gue cuma angguk-angguk kalem, tapi jiwa gue lagi berteriak: AKHIRNYA ADA YANG APRESIASI!

“Hmm, ternyata masih banyak yang gue nggak tau tentang lo ya, Dean,” lanjutnya. Sekonyong-konyong gue jadi tersipu. Gue! Yang biasanya sok cuek! Tersipu! Cuih!

“Ya, ini buat cari tambahan aja, Nya. Kebetulan dulu sempet belajar graphic design pas pandemi,” jelas gue sambil sok humble, padahal niatnya ingin bilang, “Yup, aku multi-talenta.”

Tak lama kemudian acara utama dimulai. Para undangan mulai memenuhi kursi-kursi di sekitar runway. Gue dan Sonya bergerak mendekat, ikut menonton para model yang memakai pakaian rancangan Vero dan timnya.

Tapi makin lama, kerumunan makin menggila. “Duh, rame banget. Berasa nonton konser,” bisik gue. “Iya, gue juga nggak nyangka bakal serame ini,” balasnya.

Lalu tanpa basa-basi, Sonya buru-buru menarik tangan gue. “Mau ke mana?” gue bengong, kaki otomatis mengikuti seperti karakter NPC. “Muka lo udah pucet. Kita keluar dari sini dulu,” ucapnya tampak khawatir.

Setelah beberapa saat menjauh dari keramaian, gue akhirnya bisa bernapas lega. Angin malam lewat dengan lembut, suasana lebih hening, suara musik dari panggung cuma jadi gema jauh. Kepala gue mulai ringan.

“Dean,” Sonya bertanya tiba-tiba, “lo itu introvert ya?” Gue langsung menoleh. “Hmm… mungkin,” jawab gue, ragu-ragu. “Kok mungkin?” Dia mengernyit, menunggu jawaban yang lebih konkret. Gue cuma balas senyum, gaya misterius-malas menjelaskan.

“Yaudah, ayo ikut gue,” lanjutnya, sambil merangkul pundak gue. Gue terkejut. Tubuh gue refleks kaku seperti baru kesetrum listrik 500 volt.

Dan yang membuat makin gila: gue nggak nolak. Gue cuma diam… menerima… dan menikmati momen absurd yang membuat gue sedikit tidak percaya: Sejak kapan gue dan Sonya bisa sedekat ini?

Beberapa saat kemudian, entah bagaimana caranya, gue sudah digiring Sonya sampai ke sebuah mal yang jaraknya hanya beberapa menit dari lokasi event tadi.

Lihat selengkapnya