Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat.
Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain.
“Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?”
Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi.
Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setempat.
Akhirnya gue berhenti di alamat yang Sonya kirim. Tapi… gue langsung bengong. “Ini udah bener kan, tapi kok… rumah-rumahnya gede banget?” gumam gue. “Ini rumah atau kantor presiden sih!” Gue, mengernyit.
Pas gue mau buka chat Sonya lagi, tiba-tiba—“Dean! Gue di belakang lo!” Gue refleks menoleh. Mata gue auto membelalak. “Lah, Nya, lo di sini?”
“Iya, sini, masukin motor lo,” ujarnya santai.
“Nya, ini rumah atau cluster?” tanya gue sambil menghitung jumlah bangunan di depan mata. Ada tiga bangunan terpisah: satu bangunan utama dan dua bangunan lainnya lengkap dengan koridor penghubung. Ada juga air mancur yang cukup buat healing ala-ala vila di Ubud.
“Ah, bisa aja lo, Dean.” Sonya menepuk lengan gue, pipinya agak merah malu. “Ini aman kan gue parkir di sini? Takutnya ntar motor gue diloakin lagi,” ragu gue tiba-tiba.
“Iya, nanti gue tuker pake abu gosok. Puas?” Sewot Sonya. “Yeee… rumah segede ini tau-tauan abu gosok,” lanjut gue menggodanya. “Ah, rese lo, Dean!” Kini Sonya memukul bahu gue sampai geser. Arggh.
Akhirnya kami masuk. Jauh lebih terpukau gue. Lantai ruangannya mengkilap seperti permukaan cermin premium. Setiap gue jalan rasanya seperti content creator yang sudah punya 10 juta subscriber—jalan pelan, elegan, tapi kaku karena takut menyenggol barang mahal.
“Sepi amat rumah lo, Nya?” Heran gue melihat sekeliling. “Ayah gue lagi istirahat. Ada suster yang jagain. Sisanya ART.” Nada suaranya datar, tapi ada sedih yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Suster? Kenapa?” Rasa penasaran gue muncul. “Udah beberapa tahun ini Ayah gue sakit-sakitan. Boleh dirawat di rumah asal ada ahli yang ngawasin. Makanya gue sewa suster.” Gue mengangguk pelan. “Semoga cepat sembuh ya, Nya.” Lalu turut mendoakan. “Iya, makasih,” balasnya tipis. Lelah tapi hangat.