Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi
“Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran.
“Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu.
“Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin.
“Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?”
“Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu.
“Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainnya.”
“Wah… ketahuan ya?” gue garuk kepala, malu sendiri. “Mungkin karena aku baru menemukan kepuasan yang belum pernah aku rasain sebelumnya. Dari kecil aku nggak pernah punya kesempatan buat cobain hal-hal seru kayak anak-anak lainnya.” Aya sedikit maju, kedua lengannya terlipat di atas meja. Nada suaranya berubah, lebih dalam.
“Dra, nggak ada kata terlambat. Mulai sekarang, kamu boleh melakukan hal-hal yang dulu nggak sempat kamu lakukan.” Kalimat itu jatuh pelan. Tapi rasanya seperti ada gembok besar di dada gue yang akhirnya retak, lalu patah.
“Apa aku bisa, Ay?”