Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #22

Eps. 21 Tahun Baru, Masalah Baru

Tahun Baru

Malam ini, Jakarta seperti terbakar oleh gemerlap lampu dan suara kembang api yang dinyalakan sebelum saatnya. Klub malam yang gue datangi penuh sesak, dan sepertinya gue datang terlalu awal.

Abay—partner in crime yang katanya on the way dari dua jam lalu, belum muncul juga. "Emang kebiasaan tuh anak."

Sambil menunggu, gue duduk di bar, memesan segelas liquor[10], dan mencoba terlihat seperti manusia misterius yang punya masa lalu kelam.

10. Minuman yang pada proses pembuatannya mengalami proses fermentasi dan destilasi atau penyulingan. Biasa juga disebut basic spirit yang terdiri dari: vodka, tequila, white/dark rum, gin, whiskey, bourbon, brandy, cognac, dan aperitif.

Suara musik berdentum kencang, lampu disko berputar-putar bak kipas angin rusak, orang-orang joget asal seperti cacing kena garam, namun pikiran gue justru kosong—tertinggal entah di mana.

Hingga tiba-tiba seseorang merangkul gue dari belakang. Refleks gue balik badan. Dan jantung gue langsung melesat terbang.

“Sonya!” tercekat gue menatapnya. “Lo kenapa? Kayak baru liat hantu aja,” ucapnya santai, padahal jantung gue hampir keluar lewat telinga.

“Y—ya lo ngagetin aja, untung nggak keburu gue keluarin jurus uppercut[11],” balas gue setengah lega, sisanya malu.

11. Pukulan dalam tinju yang dilakukan dengan mengayunkan tangan dari bawah ke atas secara vertical.

Sonya langsung terkekeh, senyumannya seperti percikan lampu bar yang menari-nari di mata gue. “Wuih, ya gue tangkis duluan lah,” celetuknya, lalu duduk di samping gue.

“Lo kok bisa ada di sini, Nya?” tanya gue, masih belum percaya.

“Kenapa sih lo setiap ketemu gue nanya gitu?” nadanya sedikit sinis, tapi matanya tetap lembut.

“Nggak, bukan gitu. Gue cuma nggak expect aja liat lo…” Seolah kayak lo ngikutin gue terus, ingin rasanya gue berkata seperti ini, tapi tertahan di mulut.

“Lo nggak suka ya ketemu gue, Dean?” liriknya curiga. “Ah, nggak kok. Perasaan lo aja kali,” bantah gue. Sonya pun diam sejenak, lalu berkata datar, “Gue diajak Abay.”

“Hah! Abay?” Dahi gue mengerut.

“Iya. Katanya kalian mau ngerayain tahun baruan bareng, yaudah, gue ikut,” lanjutnya, mendesah pelan.

“Dasar Abay! Main buat keputusan sendiri aja,” gerutu gue dalam hati. Namun, entah kenapa melihat sosok Sonya di sini, justru membuat hati gue hangat. Seperti wifi gratis di café—tidak disangka tapi menyenangkan juga.

“Hmm, minum apa ya?” celetuknya kemudian, sambil melihat-lihat daftar minuman. “Pengen cocktail[12] yang seger-seger, asem manis gitu deh,” lanjutnya, sambil mengecap lidah. “Oh, asinan bogor aja,” sahut gue tanpa berpikir. Sonya langsung nyubit lengan gue, “Yang bener dong, Dean!” Aargh!

12. Minuman beralkohol yang di mix lebih dari satu campuran untuk menciptakan rasa yang lebih variatif.

“Yaudah… ini aja, sex on the beach,” lanjut gue, dengan ekspresi datar. Sonya pun terdiam. Tampak tatapan matanya seperti detektor dosa.

Setelah beberapa detik, gue baru menyadari apa yang salah. “Oh, nggak! Bukan itu maksud gue, Nya! Itu nama minuman! Sumpah demi kulkas di rumah gue!” panik gue, tergagap-gagap, takut ia salah paham.

“Hahaha, iya, iya, gue tau kok! Tapi ekspresi lo barusan tuh priceless banget, Dean!” balasnya terpingkal-pingkal, hingga hampir tersedak napas sendiri. Gue hanya menunduk sambil menyeruput minuman, seperti bocah minum susu pakai sedotan warna-warni. Malu.

Lihat selengkapnya