Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #23

Eps. 22 Ciuman, Mabuk, dan Gerobak Bakso Abay

“Ya ampun, Nya! Lo…” belum sempat gue mengakiri kalimat yang keluar dari mulut ini, tiba-tiba—tanpa aba-aba, tanpa jarak, tanpa perpanjangan waktu untuk menghindar, Sonya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.

Ia membungkam gue dengan bibirnya.

“Muach!”

Ya, kami baru saja berciuman. Singkat. Cepat. Juga hangat. Namun terasa dingin di hati, seolah bekas luka yang telah lama membatu kini kembali hidup, dan berdenyut. Gue membeku. Otak juga error, seperti laptop tua yang dipaksa membuka 12 jendela halaman internet sekaligus.

Sonya langsung panik, “Eh, sori-sori, Dean! Gue nggak maksud…” Gue tatap dirinya dengan perasaan campur aduk. “Maafin gue ya, please… gue lagi bego banget nih,” ucapnya, yang semakin membuat gue kesal. “Maksud lo, lo biasa nyium siapa aja dengan random gitu?”

“Ya, nggak lah. Gue bukan cewek kayak gitu, Dean!” terlihat jelas ekspresi kecewa sekaligus menyesalnya. Sementara itu, tiba-tiba serangan kecemasan gue mulai datang menyerang.

Pandangan gue berbayang. Keringat pun terasa dingin berkunang-kunang. Sekelibat luka lama yang berkarat—melesat cepat menembus akal sehat. “Dean, lo nggak apa-apa?” bingung Sonya mundur secepat kilat.

Setelah mengatur napas sejenak, gue pun berusaha untuk menyampaikan sesuatu kepada Sonya. Sesuatu yang sebenarnya berat untuk gue ucapkan, namun harus gue lakukan demi kebaikan gue.

“Nya, kayaknya sampai di sini aja deh. Sori, gue nggak bisa lanjut deket sama lo.” Tampak raut wajah Sonya berubah seketika. Kedua Matanya basah, kemudian air matanya jatuh satu per satu, seolah mencoba menahan waktu agar tak berjalan.

“Dean, maafin gue… gue nggak sengaja,” dengan suara lirih dan bergetar, Sonya menatap gue yang menjauh darinya.

Tak terasa, jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dj dan MC pun undur diri. Dan tiba-tiba, orang-orang heboh kocar-kacir seperti zombie. Ada yang jalannya mirip kelabang pincang. Ada yang masih belum move on, “Woy, lagunya jangan dimatiin!”

Ada juga yang panik karena kehilangan ponsel, kunci, dompet, hingga tambatan hati. Yang terakhir itu tuh sepertinya yang paling panik.

Lihat selengkapnya