Sonya
Terdengar suara isakan tangis menggema di kamar yang sepi sebagai latar. Tiba-tiba terdapat permintaan panggilan video dari Vero. “Hah! Vero?” gumam gue, ragu untuk menerimanya. Namun ini adalah kesempatan yang baik untuk berbaikan dengannya. Bagaimanapun juga dia adalah sahabat wanita gue satu-satunya.
“Hai, Nya. Happy new year!” sapa Vero dari seberang layar. Di belakangnya tampak kelap-kelip cahaya malam dari jendela kamar hotel—dia sedang di luar kota, sibuk dengan urusan pekerjaannya. “I… Iya, happy new year juga.” Ini adalah panggilan pertama sejak pertemuan terakhir kami. Di mana kami sempat berselisih soal gue yang sedang mendekati Deandra.
“Nya, lo mana? Kok nggak keliatan?” ucapnya, menatap layar sambil memicingkan mata. Gue yang sedang berusaha menahan tangis, akhirnya menampakkan diri. “I… Iya, ada kok,” jawab gue lirih, pura-pura tenang. “Lo abis ngapain?” tanyanya penuh curiga. “Nggak ngapa-ngapain, abis ini aja… apa, nemenin bokap di teras,” bohong gue, mencoba terdengar meyakinkan. Namun Vero adalah Vero, yang mana dirinya sangat mengenal gue.
Tiba-tiba, tatapan matanya langsung berubah sendu. “Nya, lo barusan nangis kan? Jangan bohong. Gue sempet denger isakan lo tadi.” Mendengar ucapannya itu, seketika tembok yang gue bangun runtuh. Air mata yang gue tahan dari tadi akhirnya jatuh tanpa aba-aba—menumpahkan semua yang tak sanggup gue ungkapkan dengan kata.
“Nya, tenang dulu. Coba ceritain, ada apa?” suara Vero terdengar pelan, tapi hangat. Gue menarik napas panjang, mencoba merangkai kata. “Gue baru aja ngelakuin kesalahan, Ro,” ucap gue, dengan suara gue yang terdengar parau. “Kesalahan apa?” Vero fokus mendengarkan. “Semalem gue tahun baruan sama Abay dan Deandra…” Gue terdiam sejenak. “Terus?” Vero tampak tidak sabaran. “Entah, gue juga nggak ngerti apa yang terjadi sama diri gue? Tiba-tiba aja gue nyium dia.”
“What?! Lo nyium Andra!” terkejut Vero hingga menutup mulutnya. “Trus-trus, apa yang terjadi setelahnya?” dengan kedua mata membesar, Vero menyimak.
“Ya, dia marah. Gue nggak ngerti kenapa, tapi… dia meminta gue untuk jangan menemuinya lagi,” cerita gue, masih dengan air mata mengalir.
Vero terdiam sejenak. “Itulah alasan kenapa gue hari itu berusaha untuk menghentikan lo, Nya,” lanjutnya kemudian, memecah keheningan. “Maksud lo, Ro?” Gue penasaran. “Ya, waktu itu gue bukannya nggak setuju, tapi justru pengen ngelindungin lo dari kondisi yang dia punya,” jawabnya.
Gue semakin bingung. “Melindungi? Dari apa?” Gue mengernyit, belum paham. Vero pun menghela napas panjang, menatap gue dalam layar seakan sedang memilih kata yang tepat.
“Deandra itu… punya kondisi khusus. Seperti penyakit, atau lebih tepatnya luka. Luka yang bikin dia nggak percaya sama cinta. Buat dia, kasih sayang itu cuma konsep. Dia melihat hubungan antar manusia itu lebih seperti tim kerja—saling membutuhkan, bukan saling cinta. Kalau menurutnya seseorang udah nggak ‘berguna’ lagi, maka dia akan pergi. Sesederhana itu.” Kata-kata Vero menembus dada gue seperti serpihan kaca.
“Coba sekali lagi lo tanya hati lo, Nya. Apakah perasaan cinta lo ke Andra itu bener-bener nyata, bukan cuma rasa penasaran?” Tanpa berpikir gue membalasnya dengan tegas, “Jelas, bukan, Ro! Gue udah cukup dewasa untuk membedakan mana yang namanya cinta monyet dan perasaan yang tulus. Rasa yang gue miliki ini berbeda. Dan dengan pertemuan kedua kami saat ini, justru membuktikan bahwa perasaan yang gue miliki ini semakin nyata.”
“Well, kalo gitu tersisa satu pertanyaan lagi,” ucap Vero menggantung. “Apa?” tanya gue. “Rasa yang lo miliki itu, worth it nggak untuk diperjuangkan? Walaupun hasilnya bisa aja ngecewain lo?” Gue mematung. Membayangkan jika saat itu benar-benar terjadi. Sudah pasti pasti gue akan hancur. Namun, gue tidak ingin menyerah sebelum mengetahui apa yang sedang gue hadapi.
“Hmm, sebelum gue jawab, gue perlu mengetahui satu hal, Ro.” Suara gue sedikit parau. “Apa?” Vero menatap penuh tanya. “Apa lo tahu penyebab Deandra menjadi seperti itu?” Lagi-lagi Vero terdiam. Gue menatapnya sambil gigit jari. “Hmm, gue nggak tau tepatnya apa. Tapi, sepertinya berhubungan dengan trauma masa kecilnya.”
Mendengar itu, seperti terjun dari atas tebing—tiba-tiba gue terhisap kembali ke masa lalu. Akhirnya gue paham mengapa Deandra memiliki kepribadian seperti itu. Semua potongan puzzle yang dulu tidak masuk akal, kini mulai tersusun rapi. Sikap dinginnya, jaraknya, tatapan kosongnya—semuanya mempunyai alasan.
“Gue akan menjawab pertanyaan lo sebelumnya, Ro,” dengan penuh keyakinan gue menatap Vero dari layar ponsel. Vero menyimak. “Gue akan tetap berusaha mendekati Deandra. Apa pun yang terjadi, gue siap dengan resikonya.” Vero mengernyit, sedikit tersenyum getir. “Kenapa lo segitu yakinnya? Apa… karena cinta?” Gue menggeleng pelan sambil tersenyum. “Bukan. Karena dulu dia pernah jadi cahaya buat gue. Dan sekarang… giliran gue yang akan meneranginya.”
Deandra
“Pagi semua, selamat tahun baru, whoaaa—hmm,” sapa gue, dengan nguap-an pertama di tahun yang baru ini. Tampak Ibu dan Diana asik bercengkrama sambil ditonton televisi. “Pagi-pagi, liat tuh jam berapa!” balas Ibu, dengan lirikan maung-nya. “Yaelah, Ma, belum juga genap 24 jam ganti tahun, udah kena omel aja,” sewot gue. Diana yang mendengar ikut tertawa, namun bergegas menutup mulutnya.
“Ooo, udah berani ya kamu nge-roasting Mama,” balas Ibu, dengan istilah yang entah belajar dari mana itu. “Kamu baru pulang tadi pagi kan?” lanjut Ibu, menatap curiga “Iya,” jawab gue apa adanya. “Itu kamu nongkrong apa bersihin jalan?” pelan nada suara Ibu, tapi nendang. “Jiah, ngitungin pohon di jalan, kali aja ada yang ilang!” balas gue, sekalian.