Grududuk! Grududuk! Suara gemuruh itu menggema di telinga, seperti pertanda bahwa sesuatu yang besar akan datang. Asap hitam mulai muncul, tipis pada awalnya, lalu menebal, bergulung, dan berubah menjadi awan pekat yang mengerikan.
Dalam sekejap, gumpalan hitam itu saling bertumpuk, semakin besar—hingga menelan apa pun yang ada di hadapannya.
“Siapa pun… tolong selamatkan aku!” jerit gue dalam hati, tepat sebelum tubuh ini terhisap oleh pusaran awan hitam itu.
Namun, ketika mata ini terbuka, hanya keheningan dalam gelap yang menyapa. Tak ada suara, tak ada cahaya, hanya kekosongan yang menggantung di udara. Gue bisa melihat, tapi dunia di depan mata hanyalah hitam tanpa ujung.
“In… ini—lebih seperti tempat untuk bersembunyi,” bisik gue dalam hati.
Beberapa saat kemudian
Langit pagi meneteskan cahaya lembutnya di antara dedaunan. Payung-payung besar menaungi meja-meja kayu, menebarkan bayangan teduh yang menenangkan mata. Suara sendok beradu dengan gelas, samar tapi berirama. Gue menarik napas panjang, menanti Aya yang tak kunjung datang.
Hari ini kami bertemu di luar ruangan. Kata Aya, untuk ganti suasana—agar tidak bosan. Aya sengaja memilih restoran ini, sebagai tempat terbaik untuk berbincang-bincang. Dan ternyata gue datang terlalu awal dari waktu yang sudah ditetapkan.
“Lho, Dra! Kok kamu udah sampai? Aku kira aku yang bakal duluan,” ucapnya, tersenyum sambil menarik kursi di hadapan gue. “Iya, tadi berangkat lebih awal. Gabut di rumah,” jawab gue, mencoba terdengar santai. Lalu Aya menatap gue—lama, matanya lembut tapi tajam seperti biasa. “Kamu baik-baik aja? Wajahmu kayak lelaaah sekali,” tanyanya, tampak khawatir.
Gue mengangguk kecil, lalu berkata pelan, “Ya, karena itu aku ingin menemuimu, Ay. Sepertinya… ketakutanku itu telah kembali. Belakangan ini juga serangan panikku sering kumat lagi.” Aya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku, lalu mengeluarkan recorder-nya—benda kecil yang selalu jadi saksi perbincangan kami.
Setelah memesan minuman, Aya mencondongkan tubuhnya ke depan, nada suaranya berubah serius. “Apa ada sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini?” Gue menatap permukaan meja. Mengingat-ingat beberapa momen yang menjadi alasan gue ada di sini. “Sepertinya… semua ini dipicu oleh kehadiran wanita itu, Ay.”
“Maksudmu wanita boxing itu?” tampak Aya mengetik sesuatu pada laptop-nya. Gue mengangguk. “I… Iya, dia.” Mendengarnya, Aya terdiam sejenak, mencoba membaca jeda di antara kalimat gue. “Memangnya, apa yang terjadi di antara kalian?” tanyanya lagi. Gue pun menarik napas, lambat.
“Ya, sesuai saranmu sebelumnya, Ay. Aku mencoba untuk membuka diri kepadanya. Makin ke sini, kami makin akrab. Tapi… akhir-akhir ini aku merasa dia telah melewati batas. Aku risih. Aku mau mundur perlahan-lahan, tapi anehnya—aku selalu memikirkannya. Dan di saat bersamanya, aku merasa tenang.”
Aya tersenyum kecil. “Hmm, menarik. Biasanya, ketika seseorang mengalami trauma relasional, kehadiran figur baru bisa memunculkan dua respon yang saling bertolak belakang: dorongan untuk mendekat karena merasa aman, dan dorongan untuk menjauh karena takut disakiti lagi. Kamu sedang berada di antara dua kutub itu,” jelas Aya panjang lebar. Sementara gue hanya bisa terdiam. Penjelasannya terasa tepat—seperti seseorang baru saja menyalakan lampu di ruangan gelap di kepala gue.
“Bisa kamu ceritakan lebih dalam tentang rasa tenang itu?” lanjutnya. “Hmm, rasanya seperti… pulang. Aku nggak harus berpura-pura kuat di hadapannya.” Tampak Aya tersenyum tipis. “Wah, pasti itu hal yang langka kan?” ucapnya, dan gue mengangguk pelan. “Kalo gitu… apa bisa dibilang hatimu mulai menerima kehadiran seseorang?” Gue terdiam. Lalu menatap kosong ke arah pepohonan. “Entah, Ay. Rasanya ini cuma berlaku untuk dia.”
“Kalo gitu harus dibuktikan dulu dong?” celetuk Aya, menahan tawa kecil. “Dibuktikan gimana?” belum mengerti gue. “Ya, dengan mencoba berinteraksi dengan wanita lain.” Gue mendesah pelan, mencoba berpikir siapa yang dimaksud. Tapi, sebelum sempat menjawab, Aya terkekeh. “Kenapa?”
“Liat deh, kamu serius banget mikirnya. Emangnya kamu nggak memandang aku sebagai wanita?” lirik Aya, menggelengkan kepalanya. Sementara gue hanya terdiam, lalu menunduk dengan senyum getir. “Hmm, sejauh ini, di saat bertemu aku, kamu pernah ngerasain ketenangan itu juga, nggak?” Tampak Aya menyandarkan tubuhnya ke kursi.