Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta

Peter Samudra
Chapter #26

Eps. 25 Tidak Semua Cinta Harus Dimiliki

“Bzzz! Bzzz!” Terdengar suara dering ponsel bergetar beberapa kali. “HP siapa tuh yang geter?” tanya Dimas, melotot seperti detektif dadakan. “Punya gue,” dengan santai gue menjawab.

“Lah, trus kok nggak lo angkat?” Dimas makin penasaran. “Biarin aja lah. Ntar juga berhenti sendiri,” jawab gue, berusaha untuk tidak peduli. “Emang dari siapa sih?” dengan tatapan tajam gue meliriknya. “Kepo banget sih lo, Dims!”

“Ah, fix! Dari cewek pasti. To, pegangin Andra, To!”  seru Dimas, langsung pasang mode ‘misi penyelamatan negara’. “Apaan sih! Woy, woy, jangan—HAHA! Geli anjir! Kek bocah aja!” heran gue, dengan tingkah laku mereka berdua.

Dengan mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya mereka berhasil meraih ponsel gue yang ada di kantong celana. Ekspresi mereka seperti baru dapat medali emas Olimpiade.

“Nah, bener kan, dari cewek,” ucap Dimas, sambil senyum-senyum nakal seperti anak kecil nemu permen. Setelah membaca nama yang tertera di layar ponsel, “Mampus! Ternyata Sonya,” girang Dimas, langsung joget kumbang. Lalu dengan jiwa usilnya, dia segera menerima panggilan telepon itu tanpa persetujuan gue.

“Halo, Nya. Iya, dia ada kok… eh, bentar.” Dimas melirik gue, dan gue langsung geleng-geleng kepala bak ayam migrain. “Di toilet, di toilet,” bisik gue dengan mata menyipit. “Oh, kata Andra dia lagi di toilet, Nya. Iya, iya, nanti gue sampein.” Dan klik! Panggilan ditutup.

“Eh, pantat panci! Kenapa lo bilang ‘kata gue’ sih!” Secepat kilat gue rebut lagi ponsel itu dari tangannya. “Jiah! Item dong, eh, emang gue item sih,” terkekeh Dimas, tidak peduli. Sementara gue merasa lega seperti habis lolos ujian skripsi. “Lagian lo kenapa juga pake menghindar dari Sonya?” tanya Dimas, penuh rasa ingin tahu.

“Ya, lo kan tau. Gue emang nggak nyaman deket sama cewek. Kayak baru kenal gue aja,” heran gue menatapnya. “Ya, gue ngerti. Tapi kalo bertemen kan bisa, buktinya lo sama Vero baik-baik aja kan?” balasnya belum paham. “Ya beda. Vero tuh kayak… sohib cowok tapi versi lebih wangi.”

“Hmm…” Dimas menatap curiga. “Apa jangan-jangan… Sonya udah nembak lo?” Mendengar itu, gue langsung cosplay jadi udang beku. Bayangan Sonya sewaktu mencium bibir gue saat tahun baru, lewat sekelibat mengguncang jiwa.

“Woy, Dra! Ditanya malah bengong!” tegur Dimas, manyun. “Hah! Nggak kok, nggak, eh, mungkin…” jawab gue, panik kebingungan. “Tuh kan, pasti ada yang terjadi,” ucap Dimas, mengendus bau-bau menyembunyikan sesuatu. Sementara itu Anto bergegas merapat, ikut menyimak.

“Ayo, ngaku nggak lo sama gue!” seru Dimas, mirip bos mafia lagi gertak sandera. Melihat kegigihannya itu, dengan terpaksa gue menceritakan apa yang terjadi di antara gue dan Sonya. Setelah beberapa saat, “Apa! Kalian ciuman?” terkejut Dimas, tatap-tatapan dengan Anto yang rupanya sedang melakukan panggilan video bersama istrinya. Kata Anto, cerita gue tidak kalah seru dari cerita drama-drama yang sering ditonton oleh istrinya di kampung.

“Terus, kelanjutannya gimana, Mas Andra?” tanya istri Anto, yang ikut mendengarkan dari pulau yang jauh di seberang sana. Nih, apa-apaan sih, kok jadi sinetron live!

“Iya, awalnya gue kira itu cuma nggak sengaja aja. Ya, namanya lagi party, ada alkohol, mungkin aja khilaf kan. Tapi, ternyata Vero berkata lain,” ucap gue, mengingat perkataan Vero sebelumnya. “Lho, kok nyambung ke Vero?” bingung Dimas, lagi-lagi menatap Anto.

“Ya, belakangan gue juga baru tau kalo Vero itu ternyata sahabatnya Sonya,” jelas gue, mengejutkan mereka berdua, eh, bertiga, karena ada istrinya Anto. “Nggak, Mas. Banyak orang. Ini di kampung lagi live di pos ronda!” celetuk Anto, sambil menunjukkan layar ponselnya. “Apaan coba?!” teriak gue frustasi.

Lihat selengkapnya