“Hari ini kamu jadi mau pergi kan?” tanya Ibu, memastikan janji yang sudah gue buat sebelumnya. “Iya, jadi kok. Tapi kan… belum tentu bisa ketemu juga. Apalagi ini hari libur.” Gue menghela napas, membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
“Ya, dicoba kan nggak ada salahnya. Ingat, kamu bukan menunda satu dua hari lho, tapi udah bertahun-tahun,” ucap Ibu lembut, namun menembus tepat di bagian hati yang paling gue takuti. Belum sempat gue meresapi, tiba-tiba terdengar suara sumbang yang begitu akrab memecah suasana pagi.
“ANDRA! ANDRA!”
Ibu langsung menoleh dan tersenyum kecil. “Nah, itu suara Abay.” Tampaknya Ibu hafal suara barongsai satu itu. “Tumben dia ke sini pagi-pagi?” lanjut beliau, heran. “Mau numpang sarapan kali,” celetuk gue asal. “Hush! Jangan gitu dong. Kamu tuh seneng banget sih ngeledekin Abay,” omel beliau, membela si beruang mata empat itu. Gue hanya terkekeh.
“Andra sengaja minta Abay ke sini buat nemenin Andra, Ma,” jawab gue membuat Ibu tersenyum lega. “Bagus deh kalau ada yang nemenin kamu, Mama jadi nggak khawatir.”
Saat gue keluar rumah, pandangan gue langsung tertuju pada sebuah mobil klasik yang terparkir manja di depan pagar. “Wuih, VW Combi siapa tuh yang lo bawa?” terpukau gue. “Mobil Sonya,” jawab Abay datar. Sementara ekspresi gue langsung berubah. “Hah?! Sonya! Ngapain?” Gue mengernyitkan dahi, lebih ke arah frustasi daripada penasaran.
“Ya ini kan perjalanan jauh, Dra. Naik motor panas,” ucapnya, menatap langit seolah mencari alasan tambahan yang lebih meyakinkan. Wajar sih… alamat orang tua kandung gue itu memang cukup jauh dari sini dengan estimasi waktu sekitar 90 menit berkendara.
“Maksud gue kenapa lo harus minjem sama Sonya?” Gue manyun, sekaligus jengkel. “Ya adanya dia. Vero kan masih di luar kota. Dimas mobilnya dipake. Lagian kenapa sih sama mobil ini? Sama-sama minum bensin juga!” seru Abay, mulai curiga.
“Ish, bukan masalah mobilnya…” Gue geleng-geleng sambil mengusap wajah. Bibir gue diam, tapi hati gue… ah, sudah lah!
Sonya! Sonya lagi! Sonya terus! Kenapa sih selalu mengerucut ke dia! Sebelumnya hidup gue juga baik-baik aja tanpa dia.
Kemudian, setelah berpamitan dengan Ibu, kami memulai perjalanan menuju alamat orang tua gue yang berada di wilayah Cibubur—tepatnya Kota Wisata. Bersama si Combi, kami melewati ramainya kota Jakarta di hari minggu, yang merupakan hari libur keluarga ini.
Satu jam lebih berlalu, dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. “Oh, ini yang namanya Kota Wisata?” Abay tertegun melihat gapura besar nan megah itu. Gue hanya menggangguk pelan sambil memastikan alamatnya.