Jadi ini ayah gue...
Ketika ia melihat gue, reaksi pertama gue bukan haru. Bukan kaget. Bukan rindu. Tapi curiga. “Apa hubunganmu dengan Lisa?” tatapnya dingin. Gue tertegun sesaat. Pertanyaan itu menusuk lebih tajam dari pisau mana pun. Gue berusaha berdiri tegak, meski lutut mulai bergetar. “Ibu Lisa adalah ibu yang membesarkan saya dari kecil, maaf… sejak saya lahir.”
Tatapannya meruncing. Kedua sudut di ujung bibirnya menurun. Seolah ia sedang memastikan apakah bayangan yang berdiri di hadapannya ini nyata atau cuma mimpi buruk masa lalu yang kembali menuntut. “Ada apa sebenarnya? Dia siapa Mas?” tanya wanita yang masih gue ragukan jika dirinya adalah ibu gue. “Jangan-jangan…” tambah Claire, dengan ekspresi persis seperti di sinetron, saat situasi sedang genting.
“Claire, cepat masuk ke kamar!” perintah pria tua itu, tegas. Zoom in. “Ta… Tapi, kenapa?” bingung Claire, penasaran. Zoom out. “Ini bukan permintaan, tapi perintah!” teriaknya makin menjadi. “Mami juga, tolong tunggu di dalam kamar,” lanjutnya, dengan nada yang lebih lembut. Kini hanya tersisa kami berdua, dengan Abay yang tepat berdiri di samping gue. Canggung. “Aduuh, kenapa gue harus terjebak di situasi macam ini…” gumamnya kebingungan.
“Ka… Kamu adalah…” dengan ragu-ragu, pria tua itu menatap gue. Tampak dia berusaha mengingat sesuatu. “…anak itu?!” Kepalanya memiring, matanya melotot.
“Ya, saya adalah anak Anda yang dua puluh enam tahun lalu, Anda tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan apa pun. Saya… Deandra, yang Anda sebut ‘anak itu’,” ucap gue, dengan emosi yang mulai mengalir ke seluruh nadi gue saat ini. Pria tua itu pun tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi.
“Terus, kenapa kamu ke sini? Apa yang kamu mau dariku?” teriaknya, menunjuk-nunjuk dengan ekspresi yang seolah mempertanyakan kehadiran gue. “Kenapa? Hahaha!” tertawa getir gue menatapnya. “Tidak. Saya tidak perlu apa-apa. Saya mencari Anda, hanya untuk memastikan sebajingan apa manusia seperti Anda ini!” seru gue.
Abay yang semula berada di samping gue, kini berusaha untuk melerai pertengkaran ayah dan anak yang rupanya saling membenci ini. “Udah, Om tenang dulu. Dra, tahan emosi lo dulu.” Abay tampak panik, sekaligus serba salah.
“Kamu ke sini pasti karena uang kan? Nggak ada apa-apa di sini untukmu. Kamu itu anak terkutuk! Banyak kerugianku gara-gara mengikuti dukun tolol ibumu itu!” teriaknya lagi, yang kini benar-benar menyalakan api amarah gue. “Apa! Anak terkutuk? Dasar manusia Iblis!” Tangan gue yang sejak tadi menggenggam luka masa lalu akhirnya melayang.
Bukk! Pukulan mendarat di wajahnya. Dia jatuh. Gue memukul lagi. Untuk setiap malam gue menangis. Untuk setiap pertanyaan yang tidak pernah ada jawaban. Untuk setiap bayangan ayah yang tidak pernah datang.
“Di mana ibuku? Aku yakin wanita tadi bukan ibuku!” lanjut gue, teringat satu sosok yang juga ikut bertanggung jawab atas keberadaan gue di dunia ini. “Bukan urusanku! Aku juga sudah lama meninggalkan ibumu yang bodoh itu. Dasar anak pembawa sial!” Dengan sisa tenaganya, pria tua itu menendang badan gue hingga tersungkur ke lantai. Dan dengan segera dia melancarkan serangan balasan.
Gue hanya diam dan menangkis setiap serangannya sambil meratapi keberadaan gue. Hingga tidak sadar, air mata ini telah turun membasahi pipi. Gue menangis bukan karena sedih, tetapi karena apa yang gue bayangkan selama ini tentang ayah gue terbukti benar. Gue menangis bukan karena kecewa, tetapi karena akhirnya gue menyaksikan sendiri, ada seorang ayah yang benar-benar keji dan membenci darah dagingnya sendiri. Karena jika hanya diceritakan, mungkin orang-orang tidak akan percaya.
Kemudian, Zdup! Giliran jurus totok maut Abay mendarat tepat di belakang punggung pria tua itu. “Apa-apaan ini?” Spontan dia menoleh. Lalu menatap Abay dengan kebingungan. “Walaupun Om orang tua, tapi nggak boleh keterlaluan gitu, Om. Justru harusnya Om jadi contoh yang baik…” ucap Abay, dengan volume suara yang makin lama makin mengecil—lalu bersembunyi di balik badan gue.
Mendengar kehebohan yang terjadi, Claire dan ibunya kembali lagi untuk memastikan. “Apa-apaan ini! Apa yang terjadi?” Dengan segera Claire melindungi ayahnya. Sementara gue dengan sigap berdiri dan mendeklarasikan kalimat terakhir gue untuknya.
“Urusan saya di sini sudah selesai…” ucap gue, sambil merapikan pakaian yang tampak kusut. “Tapi, saya ingin mengetahui di mana keberadaan ibu saya?” lanjut gue dengan lantang.