“Dasar anak terkutuk! Pembawa sial! Tidak seharusnya kamu lahir!” kalimat itu terus berputar-putar di mimpi yang terjadi bukan atas kehendak gue. Nampaknya, alam bawah sadar gue ikut merasakan apa yang hati ini rasakan. Dengan mata tertutup, gue berkeringat gelisah, merasa tidak nyaman dengan visual yang terus berulang-ulang.
“Tidaaak!” Gue refleks teriak, bangun sambil megap-megap. “Ah, sial! Otak sudah sepakat untuk melupakannya, tapi sepertinya alam bawah sadar gue belum tanda tangan kontrak. Masih terdapat amarah yang sulit untuk dipadamkan. Bahkan kegelisahan dan kecemasan yang sudah mulai hilang karena terapi, mulai datang kembali—bawa koper, paspor, dan dompet penuh isi. Fix, dia akan liburan lama di jiwa ini.
Tiba-tiba, gemuruh awan hitam berkumpul mengelilingi seluruh ruangan. “Grududuk! Grududuk!” Terdengar suaranya begitu mencekam. Lebih mengerikan daripada suara token listrik habis. Gue panik, tentu saja. “Apa yang harus gue lakukan?” Gue terlihat seperti orang kehilangan arah.
Solusi tercepat bagi gue saat ini adalah meminum obat itu lagi. Tapi gue sudah berjanji untuk berhenti. Gue pun teringat oleh ucapan Aya sewaktu terakhir bertemu. Di mana gue harus bisa menciptakan ketenangan gue sendiri. Perlahan-lahan, gue mulai mengatur napas. Whoosaah… “Fokus Deandra, fokus. Jangan kalah sama awan yang lagi cosplay hantu itu.”
“Dra! Lo kenapa?” tanya Dimas, bergegas menghampiri gue yang sedang beristirahat di pantri. “Gue denger lo teriak barusan.” Dengan sepasang gunting dan sisir yang masih menempel di tangan Dimas menatap gue, tampak khawatir.
“Hah! Nggak apa-apa kok, udah lo lanjut lagi aja,” terkejut gue begitu melihatnya. “Serius? Kalo butuh apa-apa, ngomong aja,” ucapnya sekali lagi memastikan. “Bukan gitu. Masalahnya… itu kasian—” Gue menunjuk ke arah ujung sisirnya. Dimas menengok. “Apa—an? Wuaddoooh!”
Tampak kepala costumer-nya masih menyangkut di sisir yang dipegangnya, sambil meronta-ronta kesakitan berusaha melepaskan diri. “Aduduuduh! Bang, yang bener aja, liat-liat dong!” keluh pria itu dengan wajah pucat.
Beberapa saat kemudian, “Yaudah, gue cabut ya,” ucap gue, berpamitan. “Udah segeran Bang?” Anto, yang biasanya diam, sampai khawatir. “Iya, udah mendingan kok,” jawab gue, dengan senyum getir.
“Dra, tunggu…” Dimas berlari kecil menghampiri. “Tuh, undangan acara tujuh bulanan anak gue. Lo dateng ya,” ucapnya, sambil mengirimkan sebuah gambar melalui ruang obrolan di ponsel gue. Dungding! Suara notifikasi terdengar. Gue segera memeriksanya. Tujuh Bulanan?
“Acaranya ngapain aja emang?” tanya gue, datar. Dimas tercengang. Anto juga melotot. “Ya, tujuh bulanaaan! Acara syukuraaan, masa iya konser metaaal. Ampuuun dah!” jingkrak-jingkrak Dimas, terheran-heran.
“Oh, syukuran. Iya-iya gue usahain, tapi nggak janji ya. Soalnya gue belum tau di hari itu ada keperluan apa,” ucap gue lagi, masih datar. Tiba-tiba Dimas berubah jadi kuda lumping.